Beranda Berita utama Ajaran Sikh di Indonesia (5-Habis) : Gurdwara, Paduan Islam dan Hindu

    Ajaran Sikh di Indonesia (5-Habis) : Gurdwara, Paduan Islam dan Hindu

    244
    0

    Gurdwara (kuil Sikh) adalah Rumah Tuhan. Di tempat itu para umat Sikh melakukan kegiatan ritual dan amal sosial. Pendiri Sikh, Guru Nanak (nama aslinya Nanakana Shahib) sekitar 508 tahun yang silam, rajin menghimpun umatnya (sengget).

    Dia melaksanakan kegiatan Shabad Kirtan (mengumandangkan nyanyian-nyanyian tentang kebesaran dan keagungan Waheguru (Tuhan Yang Maha Esa). Gurdwara atau dikenal dengan nama Kuil atau Temple, adalah tempat di mana Shabad Kirtan dilakukan.

    Karena lahir di India, bentuk bangunan Kuil Sikh merupakan perpaduan budaya masa lampau antara Hindu dan Islam. Semasa lahirnya ajaran Sikh, India dipimpin oleh pemerintahan Islam. Bahkan ayah kandung Guru Nanak sempat bekerja di pemerintahan Islam itu. Sehingga, jangan heran, jika kuil Sikh mirip dengan bangunan masjid.

    Sama dengan tempat ibadah lainnya, Kuil Sikh sangatlah suci keberadaannya. Umat Sikh sangat getol menjaga kesucian itu. Misalnya saja, panitia Kuil mengharuskan setiap orang yang masuk Kuil atau dapur umum Kuil menutup bagian kepala dengan serban atau kain yang menandakan rasa hormat dan sopan.

    Setiap jamaah (sengget) yang masuk ke ruangan Kuil diwajibkan bersujud di depan Kitab Suci Sikh (Sri Guru Grant Sahib). Maksudnya, itu merupakan rasa respek dan penghormatan yang tinggi, sebelum dia duduk dengan jamaah yang lain.

    Di samping kitab suci yang ditutup rapat oleh kain dan dipayungi oleh kubah atau altar, duduk seorang Granthi (pendeta). Dia bertindak sebagai pemimpin upacara dengan membacakan beberapa ayat dari kitab suci itu di hadapan para jamaah yang duduk bersila secara tenang dan hikmat.

    Setelah itu, ceramah tentang keagamaan disampaikan oleh Granthi itu, yang diselingi dengan kegiatan Shabad Kirtan (pujian) dengan iringan alunan musik yang menciptakan suasana ritual semakin khidmat.

    Seluruh rangkaian sembahyang ini diakhiri dengan pembacaan doa (Ardas) dengan posisi berdiri sempurna dan tangan dilipat ke depan. Usai acara doa, Granthi membagikan Persad (sajian suci) yang terbuat dari tepung, minyak sapi dan gula yang sudah dipersiapkan sebelum dimulainya seluruh rangkaian upacara.

    Usai upacara dan doa, seluruh jamaah dan pendeta menuju ke dapur umum untuk bersantap bersama. Sajian makanan seluruhnya berasal dari bahan sayur-sayuran (vegetable). Pelayan dapur umum dikenal sangat ramah dan berbuat sebaik-baiknya untuk jamaah.

    “Jangan khawatir soal makanan. Panitia Gurdwara atau Kuil, semua, bersifat sosial. Mereka berlomba-lomba untuk melayani jamaah dengan sebaik-baiknya,” tutur salah satu panitia Kuil, Sukhjindar Singh.

    Singkat kata, keberadaan Gurdwara sangat utama bagi pengikut Sikh. Selain untuk sembahyang, juga untuk menggalang aktivitas sosial. Di Indonesia, kuil-kuil itu cukup berkembang. Di daerah yang ada penganut Sikh, di situ pula didirikan Kuil Sikh.

    Di seluruh dunia, Kuil dibangun, ada yang didasarkan dengan tempat di mana guru dilahirkan, ada pula yang dulu dibangun Guru sendiri, dan ada yang dibangun di tempat, di mana telah terjadi peristiwa penting menyangkut sejarah perkembangan agama Sikh.

    Beberapa Gurdwara yang mempunyai nilai sejarah itu antara lain, Gurdwara Sri Nankana Sahib (tempat Guru Nanak dilahirkan, 1469-1539, di Talwandi, sekarang masuk kawasan Pakistan). Gurdwara Sri Ber Sahib (tempat Guru Nanak tinggal bersama saudara perempuannya).

    Gurdwara Sri Panja Sahib (juga masih berkaitan dengan Guru Nanak), Gurdwara Dabbar Sahib (Khadoor Sahib), Gurdwara Boali-Sri Goindwal, Gurdwara Sri Darbar Sahib (Hari Mandar Shahib Amritsar). Lalu Gurdwara Sri Darbar Sahib Tarn-Taran. Gurdwara Sri Akal Takhat Sahib (Tahta yang tertinggi dan suci), dan Gurdwara Sri Ahish Mahal (Kiratpur Shaib). (jss/Tamat)