Beranda Berita Pilihan Akibat Black Campaign Target Meleset

    Akibat Black Campaign Target Meleset

    554
    0

    greenpeace

    Jakarta – Bisnis kelapa sawit di Indonesia yang sangat potensial menggeser dominasi pemasukan negara dari sektor tambang, terus kena gempuran black campaign. Salah satunya, selalu disebut tak ramah lingkungan, menghabiskan air tanah, dan membuat lahan tak lagi subur usai produksi.  Sangat disayangkan isu yang dilontarkan LSM asing itu di percayani banyak pihak. Padahal, isu itu sengaja diembuskan LSM-LSM asing supaya industri sawit Indonesia tak maju-maju. Alasannya, mereka tak ingin Indonesia menguasai pasar sumber energi terbarukan.

    “Industri sawit dalam negeri, sangat potensial. Memang harga CPO (crude palm oil) sempat turun, namun saat ini sudah membaik. Hanya saja, secara garis besar ada kendala pada black campaign yang terus dilakukan. Saya tak usah sebut negara-negara mana saja (yang melakukan), namun isu itu sengaja diembuskan karena persaingan bisnis,” ujar juru bicara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tofan Mahdi.

    Sawit, katanya, adalah tanaman yang unik. Dia sangat subur ditanam di daerah ekuator, atau yang dilintasi garis khatulistiwa. Karena itu, saat ini yang paling beruntung adalah Indonesia dan Malaysia. “Meskipun sawit itu dari Afrika, namun di sana tingkat kekeringannya membuat sawit tak tumbuh sesubur di Indonesia. Yang jelas, ini berkah bagi Indonesia dan Malaysia. Apa ini lantas dibiarkan karena percaya kampanye negatif tadi,” sebutnya.

    Memang, industri kelapa sawit sebenarnya bisa menjadi way out Indonesia keluar dari ketergantungan pada sektor tambang. Pasalnya, produksi kelapa sawit Indonesia salah satu yang terbesar di dunia. Pada 2010, ekspor sawit Indonesia mencapai 19,8 juta ton dan menyumbang USD 9,11 miliar dalam APBN. Angka itu cukup besar, meski masih kalah bila dibandingkan sektor bisnis lain seperti usaha hotel, ritel dan konstruksi. Untuk tahun ini, target produksi sawit Indonesia 28 juta ton. Pada 2020, pemerintah menargetkan 40 juta ton dan diprediksi membutuhkan tambahan lahan 12 juta hektare.

    Hal senada disampaikan Direktur Area Borneo III PT Astra Agro Lestari (Tbk) Budi Utarto. Dia mencontohkan, hasil produksi 1 hektare sawit dalam setahun, 10 kali lebih banyak dibanding biji bunga matahari atau tanaman sejenis lainnya. Artinya, negara-negara lain di dunia yang tak bisa memproduksi sawit (karena bukan di daerah ekuator), akan membuka lahan 10 kali lebih luas untuk menyamai industri sawit di Indonesia.

    “Artinya, mereka jauh lebih banyak membuka lahan baru. Sekarang, siapa yang paling merusak lingkungan? Kampanye negatif yang disebarkan ini, murni karena persaingan usaha. Banyak yang tidak ingin Indonesia maju,” sebutnya. “Padahal, sudah jelas industri sawit itu paling banyak menyedot tenaga kerja, memberikan dampak bagi daerah dengan membuka jalan-jalan baru karena umumnya letak lahan sawit di pedalaman, dan lainnya. Namun, melihat rendahnya kepercayaan publik, bisa saya katakan black campaign yang mereka lakukan berhasil,” tambah Budi.

    Selama ini, black campaign terhadap sawit memberikan dampak besar. Dan sudah terasa sejak 2011 lalu. Saat itu, berdasarkan data statistik Eurostat, impor Uni Eropa untuk komoditas kelapa sawit/CPO dari Indonesia mengalami penurunan tajam hingga 26 persen.

    Hal itu diperkirakan salah satunya akibat gencarnya kampanye hitam yang dilakukan LSM di Eropa seperti Greenpeace, Robin Wood, dan WWF. Bahkan saat itu Prancis ingin menaikkan pajak minyak sawit sebesar 300 persen yang diistilahkan dengan pajak Nutella.
    Alasannya, bahaya kesehatan gizi dari lemak nabati kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan utama dalam hazelnut –cokelat favorit dan bahan makanan di negara itu–, sehingga perlu dinaikkan pajaknya.

    Senator di Prancis telah menyerukan kenaikan pajak besar pada minyak kelapa sawit yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi luas di negara tersebut di mana masyarakat Prancis rata-rata mengkonsumsi 2 kg minyak sawit per tahun atau 126.000 ton keseluruhan lokalnya.

    Pihak yang anti-minyak sawit terus mengkampanyekan tingginya kadar lemak jenuh yang dapat menyebabkan penyakit jantung. Selain itu juga memiliki risiko kesehatan. Ini “digoreng” dengan isu deforestasi yang meluas di Kalimantan dan Sumatera, lahan sawit menggusur dan membunuh populasi orangutan yang terancam punah karena pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

    Hingga saat ini, kampanye negatif sawit Indonesia terus berlangsung. Yang teranyar dari Amerika Serikat dan Australia. Ini jelas dikhawatirkan kembali menurunkan ekspor sawit Indonesia. Sebab, Environmental Protection Agency (EPA) di Amerika Serikat masih menganggap bahwa produk sawit asal Indonesia mengandung emisi karbon yang besar. Menghadapi adanya black campaign, Indonesia akan terus melakukan white campaign terkait produk CPO. Di antaranya dengan pembuktian bahwa sawit asal Indonesia ramah lingkungan.

    Menteri Pertanian RI Suswono juga merasa geram dengan tudingan-tudingan bahwa CPO asal Indonesia mengganggu kesehatan. Salah satunya dilakukan oleh pemerintah Prancis. “Alasan-alasan yang enggak masuk akal ditujukan ke Indonesia. Namun ketika dimintai keterangan resmi akan hal tersebut mereka tak mau,” keluh Suswono.

    Target Meleset

    Sementara, produksi CPO meleset dari target yang ditentukan. Pemerintah pun menghimbau pelaku industri untuk terus menggenjot produksi. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun menyatakan, produksi minyak sawit pada kuartal pertama 2013 hanya mencapai 5,2 persen. Capaian itu lebih rendah 6,5 persen dari target sebelumnya sekitar 5,5 juta ton.

    Penyebab melesetnya produksi dari target tersebut, lanjut dia, adalah faktor curah hujan yang mengganggu siklus tanam. Namun, dia mengaku tetap optimistis produk CPO tahun ini bisa mencapai 28 juta ton. “Dengan begitu, kami bisa mengekspor sekitar 19 juta ton untuk negara tujuan seperti India, Tiongkok, atau negara Uni Eropa. Karena, konsumsi minyak sawit dalam negeri hanya 9,2 juta ton. Itu terdiri dari 5,7 juta ton untuk bahan makanan dan 3,5 juta ton untuk kebutuhan industri,” terangnya.

    Pada kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Suswono menambahkan, kementerian pertanian terus melakukan upaya lain untuk meningkatkan kinerja industri CPO. Misalnya, upaya memberikan nilai tambah dengan mendorong pengembangan industri hilir CPO dalam negeri. Seperti yang dinyatakan Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian sebelumnya, total investasi industri hilir minyak sawit mentah (CPO) Indonesia diproyeksikan mencapai USD 2,2 miliar (Rp 21,08 triliun) pada periode 2013-2014.