Beranda Berita utama Antar Anak Sekolah Pun Tenteng Laras Panjang

    Antar Anak Sekolah Pun Tenteng Laras Panjang

    66
    0

    Amankah Pakistan, khususnya Kota Karachi? Faktor keamanan itulah yang menjadi concern teman-teman ketika ketiban sampur dinas luar ke Pakistan. Kebetulan kali ini saya masuk dalam daftar delegasi misi dagang sawit ke negara Asia Selatan ini.

    “It’s safe, Pak. But be careful, stick together with the group. Never walking around the town without any companion,” kata Humaira, staf lokal Konsulat Jenderal RI di Karachi, sesaat setelah kami mendarat di Ali Jinnah International Airport.

    Suasana bahwa Karachi adalah kota yang masih harus menata diri bisa terasa sejak tiba di Bandara. Proses imigrasi terbilang cepat karena kami masuk dalam delegasi resmi pemerintah. Namun begitu menginjakkan kaki di terminal kedatangan, suasana Pakistan langsung terasa. Ribuan orang berjubel di Bandara menunggu kedatangan saudara mereka.

    “Biasanya tidak seramai ini, tetapi karena musim haji, keluarga para jamaah yang akan tiba pada berjejal menjemput ke bandara,” kata Humaira. Menyusuri jalanan Karachi kita juga merasakan aura Indonesia tahun 1960-an. Tidak ada ketertiban, kotor, kumuh dan berdebu, pun bunyi klakson adalah hal yang jamak saja.

    Memang ngeri bagi yang kali pertama ke sini. Apalagi Karachi pernah menorehkan “prestasi” salah satu dari 10 Kota Paling Tidak Aman di Dunia. Tetapi Karachi terus berbenah dan kehidupan masyarakatnya tampak normal saja. Life must go on. “Air dan listrik sangat susah di Pakistan karena jarang hujan.”

    Kami tinggal di Hotel Movenpick, salah satu dari dua hotel berbintang lima yang ada di Karachi. Satu hotel bintang lima lainnya adalah Marriott. Nah ini yang terkesan juga ngeri, petugas keamanan hotel (satpam) pun membawa senjata laras panjang yang siap dikokang. Padahal satu unit mobil patroli polisi siaga di depan hotel.

    “Ini hal biasa Mas, antar anak sekolah pun, orang tua atau pengawalnya juga menenteng laras panjang. Kebanyakan AK,” kata driver kami menjelaskan. Dia menceritakan, memang masih banyak kasus penculikan wanita dan anak, aksi kriminalitas dan perang antar geng, juga terkadang tembak-tembakan karena perselisihan bisnis.

    Bahkan di sekitar tempat kami makan malam atas undangan pengusaha Pakistan, satu hari sebelumnya terjadi aksi penembakan. Saat jalan-jalan di depan mall dekat pantai di  Karachi, kami pun melihat banyak wanita yang berbelanja ditemani pengawal membawa senjata laras panjang. Di jalan raya dan berbagai sudut kota, banyak sekali polisi dan tentara siap dengan senjata.

    “Tetapi sekarang situasi keamanan di Karachi sudah jauh lebih baik. Hanya di pinggir kota yang masih rawan. Kita ingin banyak Investasi yang datang,” kata Zeerma Khan, wanita cantik yang bekerja di perusahaan berbasis sawit di Pakistan. Khan hadir dalam konferensi sawit yang diselenggarakan Konsulat Jenderal RI di Karachi pada Kamis (6/9) kemarin.

    Wajah Pakistan bagi kami tetap ambigu. Di satu sisi ingin menjadi negara yang aman untuk investasi, namun di sisi lain masih ada “pameran” kengerian di sana-sini. (Tofan Mahdi)