Beranda Berita utama “Bisa Saja Pesanan Airbus Kami Alihkan untuk Boeing”

    “Bisa Saja Pesanan Airbus Kami Alihkan untuk Boeing”

    37
    0

    Prancis akhirnya menolak pemboikotan minyak kelapa sawit di Eropa dan berusaha mendukung penggunaan minyak sawit di Eropa. Perubahan sikap Prancis ini ternyata tidak datang tiba-tiba. Ada serentetan kejadian yang membuat Prancis menghitung risiko dan dampaknya jika nekat memboikot minyak sawit Indonesia.

    Keputusan Prancis ini tidak lepas dari pertemuan antara Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Luar Negeri Prancis serta perwakilan Kementerian Luar Negeri Prancis pekan lalu. “Kami bahas sentimen negatif Uni Eropa terhadap CPO Indonesia,” kata Luhut di Jakarta akhir pekan lalu.

    “Saya bicara sama Menlu Prancis. Kami sampaikan, kalian tahu nggak bahwa kami butuh 250 pesawat terbang selama 20 tahun ke depan,” katanya. Kebutuhan impor pesawat terbang ini mencapai USD 30-40 miliar, belum termasuk pesawat militer.

    “Kami butuhkan Airbus. Tapi kita bisa saja alihkan Airbus ke Boeing. Saya jelaskan ke mereka,” kata Luhut. Jika pengalihan ini sampai terjadi, bukan hanya Prancis yang mengalami kerugian besar, tapi juga Uni Eropa karena Airbus merupakan konsorsium pabrikan pesawat milik Eropa.

    Luhut mengatakan sikap tegas ini harus disampaikan kepada Prancis dan negara Eropa lainnya. Alasan menolak sawit karena lingkungan tidak masuk akal karena lebih bermuatan persaingan dagang semata.

    “Sawit bisa berdampak pada sektor properti. Untuk mengatasi salah satunya adalah dengan sawit. Tingkat kemiskinan Indonesia turun, tapi sudah sangat baik, gini rasio juga. Salah satunya karena sawit, itu menciptakan banyak lapangan kerja,” tandasnya.

    uhut menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin dianggap meminta-minta kepada Uni Eropa. Meski begitu, dia mengingatkan Uni Eropa harus fair dalam memberikan penilaian dan sikap.

    “Kita enggak mau ngemis-ngemis, kita punya bargaining power. Kita punya pilihan-pilihan lain bukannya kau saja. Tapi kami sangat bersahabat. Saya selalu kalau ngomong agak kasar- kasar gitu aja. Biar nggak dikira minta-minta,” urainya.

    Ketakutan kehilangan pesanan pesawat ini diduga menjadi salah satu faktor perubahan sikap Prancis terhadap minyak sawit Indonesia. Jika Indonesia sampai menghentikan impor pesawat, perekonomian Prancis terancam terganggu signifikan yang berdampak pada negara lain di Eropa.