Beranda Berita utama BPDP-KS Perlu Perluas Insentif Pendanaan Bagi Pertamina dan PLN

    BPDP-KS Perlu Perluas Insentif Pendanaan Bagi Pertamina dan PLN

    28
    0

    JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDP) perlu memperluasnya peran pendanaannya dengan memberikan insentif bagi pertamina untuk membuat kilang pengolahan CPO serta PLN untuk berinvestasi pada mesin-mesin yang kompatitel dengan biodiesel.

    Perluasan peran pendanaan itu diprediksi mampu menahan kejatuhan harga minyak sawit yang kini berada di bawah US$ 500 per ton yang dipicu turunnya permintaan pasar ekspor dan berakibat pada terjadinya kelebihan CPO Indonesia sebesar 4 juta ton pada tahun ini.

    Peneliti BPPT Agus Kismanto memperkirakan, pembangunan kilang CPO dapat mempercepat proses pencampuran minyak mentah (crude oil) dengan CPO menjadi bahan bakar. “Pembangunan Kilang itu ditargetkan mampu menyerap CPO hingga 20 juta ton per tahun atau 340 ribu barel per hari (bph),” kata Agus.

    Insentif bagi PLN perlu dilakukan untuk agar ada peningkatan penggunaan CPO pada pembangkit listrik. Dengan insentif ini, PLN dapat mengembangkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berbahan bakar miyak sawit. Hanya saja, agar PLN tidak terbebani, BPDP-KS dapat membantu pembiayaan pilot plant, dan perencanaan. “Peran BPDP-KS juga diperlukan ketika terjadi selisih harga antara BBM dan BBN,” kata Agus.

    Menurut Agus, pemerintah perlu melakukan penjajakan program barter biodiesel-biothanol dengan Brasil yang memiliki potensi sebesar 3,3 juta kiloliter. Substitusi MFO (marine fuel oil) dengan CPO oleh PLN yang potensinya bisa mencapai 0,9 juta kiloliter juga perlu dilakukan. Peluang lain, PLTD berbahan bakar HSD diganti bahan bakarnya dengan CPO atau minyak goreng, potensinya bisa mencapai 2,9 juta kiloliter,” kata Agus.

    Agus menyarankan, pemerintah untuk mempercepat program B 20 menjadi B30. “Paling tidak, program B 30 bisa terealisasi pertengahan tahun depan untuk mempercepat serapan dan mendorong kenaikan harga CPO.”

    Anggota Komisi XI DPR Jhony G Plate mengatakan, instansi pemerintah perlu melepaskan ego sektoral untuk mendorong penguatan harga CPO.”Indonesia merupakan negara yang besar, tetapi persoalan semua instansi bekerja sendiri sendiri dan sangat sektoral sehingga mengakibatkan kita menjadi kecil dan berdampak pada leverage kita yang kecil.

    Plate juga menjelaskan, program hilirisasi domestik guna meningkatkan konsumsi minyak sawit di dalam negeri tidak bisa ditunda karena produksi sawit nasional yang melimpah.

    Indonesia perlu membuat peta jalan industri sawit nasional dengan tujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi sawit, pusat referensi harga sawit, dan pusat hilirisasi sawit dunia.