Beranda Berita utama Ching Hai : Seks Itu Tiruan Kenikmatan

    Ching Hai : Seks Itu Tiruan Kenikmatan

    394
    0
    ilustrasi

    Ajaran Ching Hai menekankan cinta kasih pada sesama. Segala sesuatu yang ada di muka bumi adalah layak dicintai, termasuk kejahatan.

    Menyangkal kejahatan menurut ajaran ini adalah tindakan yang salah. Sebalilknya, mencintai kejahatan berarti membuka diri untuk selalu instrospektif. Bagaimana penerapan cinta dan kasih sayang dalam ajaran Ching Hai ini? Juga pandangannya terhadap seks ?

    Ching Hai adalah suatu bentuk aturan dan etika hidup yang lengkap. Ajaran-ajaran Ching Hai sangat luas dan mendalam, terutama diwarnai oleh kehalusan aliran Zen.

    Pemahaman dasar mengarah pada cinta kasih dan potensi yang terkandung di dalamnya. Dengan mendasari segalanya dengan cinta, bukan saja membuat hidup semakin bermakna tapi juga membawa pencerahan pada orang lain.

    Potensi cinta kasih juga dapat dirasakan dalam menghadapi kejahatan. Ternyata kejahatan tidak perlu dilawan dengan kekuasaan atau kekerasan yang sama. Ching Hai menunjukkan, bahwa kelemahan dari kejahatan adalah ketika terbukanya hati untuk menerima cinta kasih dari orang lain.

    Cinta Perimbangan Semesta
    Dunia dan segala isinya kadangkala terasa menyesakkan. Tiap orang memiliki sisi baik dan buruk, karenanya sedikit atau banyak tindakan kita ikut berperan membentuknya.

    Menyangkal kejahatan adalah tindakan yang salah, sebab kejahatan diciptakan di muka bumi untuk ditaklukkan oleh kebaikan dan cinta.

    Tantangan terbesar manusia sebetulnya bukan untuk membuat karya-karya luar biasa, melainkan ketika ia mampu membalas kejahatan dengan kebaikan. Untuk itulah mengolah cinta kasih dengan benar berarti mempertajam senjata untuk hidup dengan baik, benar, dan bahagia di dunia.

    Kejahatan adalah suatu bentuk cinta kasih yang mengalami kekeliruan. Untuk memperbaikinya dibutuhkan sentuhan cinta yang tulus. Perubahan dari keburukan menjadi kebaikan sebagaimana dari yang salah menuju yang benar tentu menimbulkan rasa sakit.

    Jika rasa sakit itu terlampaui dengan baik, maka cinta kasih telah mengalahkan bibit kejahatan. Dan jika keadaan ini terus-menerus dipupuk, maka kejahatan akan sulit muncul kembali.

    Namun adakalanya mencintai bukan hal yang benar, yakni ketika obyek yang dicintai tidak membawa kebaikan.

    Menurut Ching Hai mencintai kesenangan dunia bukan hal yang salah, namun jika dijadikan motivasi utama, maka tinggal menunggu kehancurannya saja. Sebab cinta dunia adalah menyesatkan.

    Kadang-kadang kesedihan dan kesengsaraan justru datang dari rasa cinta dunia atau materi yang berlebihan. Demikianlah Ching Hai mengajarkan tentang cinta alamiah dan bagaimana mengolahnya.

    Seks Itu Kenikmatan Tiruan
    Ketika ditanya tentang hubungan pria dan wanita, Mahaguru Ching Hai dengan tegas menyatakan bahwa itu bukan sesuatu yang tabu, bahkan sangat dianjurkan. Hanya saja, kontak pria dan wanita ini tak boleh disempitkan pada kontak fisik semata.

    Seks dalam ajaran Ching Hai adalah sesuatu yang indah, namun sebetulnya seksualitas pria-wanita adalah duplikat atau tiruan dari penyatuan diri manusia yang utuh. Kenikmatan penyatuan diri sendiri ini jauh melebihi kenikmatan yang diberikan oleh hubungan seks.

    Seperti diketahui, dalam diri manusia terdapat sisi feminin dan maskulin dengan porsi yang berbeda-beda. Pada saat seseorang menyatukan kedua sisi dirinya itu, ia akan merasakan kenikmatan dan kepuasan yang tak mungkin diceritakan kepada orang lain.

    Ching Hai menganggap manusia muncul di bumi dalam keadaan lupa terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kerajaan Tuhan. Karenanya, selama hidup manusia mencari cara-cara sendiri untuk tetap mengingat dan memuliakan Tuhan.

    Cara-cara yang ditempuhnya tak lain adalah mencari duplikat dari cara sejati milik Tuhan. Dengan kata lain kenikmatan seks hanyalah semacam tiruan yang dilakukan manusia untuk mencari sesuatu yang asli, yang telah hilang.

    Sesuatu yang asli itu tak lain ketika manusia menyatukan sisi-sisi dirinya hingga mencapai kesadaran tertinggi. Karena sebatas tiruan, maka hubungan pria-wanita yang didasarkan seks semata cenderung menemui kehancuran dan kegagalan yang memicu kesengsaraan hidup.

    Namun jika seks itu dilakukan dengan ketulusan dan ikatan suci, maka seks juga dapat dipandang sebagai alat menuju penyatuan yang lebih tinggi.

    Gairah, nafsu, dan birahi adalah bentuk kesadaran yang menyesatkan. Ketika melihat seorang fakir India dalam keadaan hampir telanjang, apa yang Anda rasakan? Paling mungkin Anda tak merasakan apa-apa, atau setidaknya muncul rasa ingin tahu yang bebas dari gairah atau nafsu.

    Sebaliknya, media porno justru menarik-ulur rasa ingin tahu seseorang dengan memanipulasi tubuh manusia.

    Ching Hai memandang tubuh manusia adalah bangunan Tuhan. Karenanya untuk mencegah nafsu yang tak terkendali itu, Ching Hai sangat menganjurkan perkawinan.

    Tidak benar jika ada anggapan bahwa kecintaan yang begitu besar untuk bersatu dengan Tuhan menghalangi seseorang untuk menyalurkan rasa cinta dan gairahnya pada orang lain.

    Juga tak benar jika Tuhan dianggap memisahkan dua insan yang saling mencintai demi pengungkapan kepasrahan diri kepada Tuhan. Justru sebaliknya, hubungan cinta bahkan seks sekalipun jika tujuan akhirnya adalah mencapai Tuhan, maka cinta mereka adalah pancaran cinta Tuhan yang paling sempurna. iz/jss