Beranda Berita Pilihan Dahlan Iskan dan Kerja Keras: Sebuah Pelajaran Manajemen (2) – Catatan Tofan...

Dahlan Iskan dan Kerja Keras: Sebuah Pelajaran Manajemen (2) – Catatan Tofan Mahdi

694
0
Dahlan Iskan

Prinsip dasar kedua dalam manajemen ala Dahlan Iskan adalah common sense (akal sehat). Memimpin redaksi sebuah koran, targetnya adalah beritanya memiliki news value, lebih eksklusif, tulisannya renyah (enak dibaca), dan mampu mengaduk-aduk emosi pembaca (marah, sedih, senang). Jika produk jurnalistiknya baik, korannya akan laku (oplah naik), pemasang iklan datang, dan perusahaan mendapatkan keuntungan.

Jadi prinsip dasar memimpin redaksi koran pun harus membuat perusahaan korannya untung. Karena itu, korannya tidak boleh partisan dan harus pro bisnis. Kata Pak Dahlan, tidak ada dalam sejarah di dunia ini koran mati karena gak ada beritanya. Kalau koran mati karena gak ada iklannya, banyak. Prinsip manajemen seperti ini tidak perlu teori yang terlalu tinggi, hanya cukup dengan akal sehat.

Ketika berdiskusi dengan Pak Dahlan, hati-hati jangan sampai memberikan jawaban atau argumentasi yang tidak masuk akal, kita pasti akan ditinggal atau mungkin dimarahi. Dalam sebuah kesempatan di lantai 4 Graha Pena Surabaya (kantor redaksi), di depan meja sekretaris redaksi, ada Mbak Oemi (sekred), Pak Dahlan, saya, dan seorang teman wartawan senior. Wartawan tadi menunjukkan Pak Dahlan sebuah berita di salah satu koran sambil berkata, “Gaji PNS naik 15%, Bos”. Kaget juga melihat teman tadi begitu berani memilih tema diskusi.

Dan feeling saya benar, Pak Dahlan tidak nyaman dengan pancingan obrolan teman tadi. Dengan mimik serius, Pak Dahlan menjawab, “Trus kenapa kalau gaji PNS naik, apa hubungannya sama kita. Ya kalau 15 tahun lalu gaji swasta lebih tinggi dari pegawa negeri, tetapi kalau nanti gaji PNS lebih tinggi kan juga tidak apa-apa. Zamannya sudah berubah, biasa saja.” Melihat situasi yang agak kurang nyaman, saya menarik diri menjauh dari meja tadi. Tak lama kemudian, Pak Dahlan juga ngibrit pergi.

“Sampeyan iki cek kendele Cak, wedi aku (Sampeyan ini berani sekali Mas, sampai takut aku, Red),” kata saya kepada teman senior tadi. Dia hanya tertawa cekikikan.

Gaya manajemen akal sehat ini bagi sebagian teman mungkin dianggap keras dan tidak manusiawi. Gaya manajemen akal sehat seperti itu kadang memamg sulit dipahami, sehingga terkesan one man show dan menang sendiri. Tapi Dahlan Iskan teguh dalam keyakinan bahwa hanya gaya manajemen akal sehat seperti itulah yang membuat Jawa Pos kukuh sampai hari ini sebagai salah satu grup perusahaan media terbesar di Indonesia.

Gaya manajemen berikutnya adalah kerja keras. Cerita tentang kerja keras insyaAllah saya tulis dalam seri ketiga (terakhir) dari rangkaian tulisan ini. Semoga Pak Dahlan Iskan dan keluarga selalu diberi ketabahan melewati proses hukum saat ini.(tofan.mahdi@gmail.com)