Beranda Berita Pilihan Dahlan Iskan dan Kerja Keras: Sebuah Pelajaran Manajemen (3-Habis) – Catatan Tofan...

Dahlan Iskan dan Kerja Keras: Sebuah Pelajaran Manajemen (3-Habis) – Catatan Tofan Mahdi

945
0
Dahlan Iskan

Berikut adalah seri ketiga (terakhir) dari tulisan saya.

Tiga filosofi dalam strategi manajemen ala Dahlan Iskan: the right man on the right place, common sense (akal sehat), dan kerja keras. Mana yang lebih penting, ketiga-tiganya bisa jadi sama-sama penting. Juga tidak berurutan secara skala prioritas. Bekerja di bawah komando Dahlan Iskan, harus memiliki ketiga-tiganya: mau bekerja keras, selalu menggunakan akal sehat, dan kompeten sehingga kita masuk dalam radar orang yang tepat pada tempat yang tepat.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kerja keras menjadi corporate culture di hampir seluruh perusahaan Grup Jawa Pos, baik media maupun non media. Karena itu, ketika Pak Dahlan dipercaya menjadi Dirut di PT Panca Wira Usaha (PWU) –BUMD milik Pemprov Jawa Timur, hal besar pertama yang dilakukan adalah mengubah culture karyawannya. Dari gaya karyawan ala BUMD yang hampir bangkrut menjadi gaya bekerja di perusahaan swasta modern, yang mana setiap karyawan harus mampu memberikan kontribusi terbaik dan bisa bekerja secara efisien serta efektif. Ini yang membuat banyak karyawan, termasuk di level direksi PWU, yang ke-ponthal-ponthal (berlarian mengikuti ritme kerja Pak Dahlan).

Mungkin dilandasi filosofi kerja keras tadi, Jawa Pos menjadi koran pertama yang tetap terbit di hari libur (tanggal merah). Beberapa media cetak akhirnya mengikuti jejak Jawa Pos untuk tetap terbit di hari libur. Kebijakan yang sempat membuat para wartawan kaget, namun akhirnya terbukti bahwa, ”Informasi itu tidak libur meskipun hari libur, toh ada manajemen libur juga,” kata Pak Dahlan. Dan kebijakan terbit di hari libur yang diterapkan jauh sebelum muncul era internet seperti sekarang, terbukti benar. Bahkan dengan tetap terbit di hari libur saja, informasi yang disajikan media cetak tetap akan jauh tertinggal dengan informasi dari news online maupun sosial media (internet), yang bisa berubah dan berkembang setiap waktu. ”Sekarang liburnya kalau hari kiamat saja Mas. Hari raya Idul Fitri juga tetap terbit,” kata seorang teman redaktur senior di Jawa Pos dengan nada guyon.

Namun tidak serta merta kultur kerja keras diterima dan diamini oleh seluruh karyawan, termasuk para wartawan. Ada saja yang ngomel. Dalam sebuah kesempatan Pak Dahlan pernah mengeluhkan masih adanya karyawan yang mbencekno (menjengkelkan), bisa jadi karena suka malas-malasan. Biasa dalam sebuah sistem manajemen, tidak semua tim di dalam bisa mengikuti ritme kerja yang diminta oleh bosnya. ”Dia itu gajinya paling besar di dunia, bayangkan datang jam 5 sore jam 7 sudah pulang. Berarti sehari hanya kerja dua jam.”

Memimpin dengan memberikan contoh. Setiap orang yang pernah bekerja bersama Dahlan Iskan pasti mengakui bahwa dia workaholic alias gila kerja. Dan menjadi susah untuk membantah karena dalam bisnis yang dia kelola, semua aspek teknis dan detail dikuasai. Pak Dahlan sangat gemar membaca dan selalu update dengan semua informasi. Karena itu, tulisannya selalu kontekstual, enak dibaca, penuh filosofi, dan sangat berisi. Jika Anda seorang editor desk olaharga, jangan sampai salah menjawab jika ditanya skor liga Inggris, Manchester United vs Liverpool misalnya. Kesalahan menjawab skor tadi sama fatalnya dengan seorang wartawan ekonomi tidak tahu nama Gubernur BI.

Tidak hanya itu, di luar urusan tulis menulis, Dahlan Iskan juga mampu membetulkan mesin cetak, ahli dalam lobi, ahli dalam bidang keuangan, dan mengusai teknis restrukturisasi perusahaan. Semua ilmu itu dipelajari otodidak dan sambil jalan. Jadi wajar jika kemudian Dahlan Iskan dari menjadi seorang wartawan yang militan menjelma menjadi seorang pengusaha kawakan.

Pada puncak karir jurnalistik, bisnis, dan pengabdiannya kepada negara sebagai Dirut BUMD, Dirut BUMN, hingga menjadi menteri, Dahlan Iskan menjadi terpidana atas sebuah kasus dugaan korupsi di perusahaan daerah nyaris bangkrut yang telah disulap menjadi perusahaan yang modern dan mampu mencetak laba. Dengan tetap menghormati semua proses hukum ini, bagi saya Dahlan Iskan tetap sebagai guru jurnalisitk, bisnis, dan manajemen terbaik yang pernah saya kenal. (habis/ tofan.mahdi@gmail.com)