Beranda Berita Pilihan Demi Biodiesel Dalam Negeri, Kurangi Ekspor CPO ke Eropa

    Demi Biodiesel Dalam Negeri, Kurangi Ekspor CPO ke Eropa

    1998
    0

    sawit-2014

    Sejalan dengan kebijakan mandatory peningkatan penggunaan biodiesel nasional, Indonesia harus siap mengurangi ekspor CPO atau komoditas biodieselnya ke Eropa. Langkah ini juga untuk meningkatkan bargaining position produsen biodiesel Indonesia di mata importir Eropa.

    Negara di kawasan Eropa yang selama ini acap menuding industri CPO Indonesia acap merusak lingkungan diam-diam ternyata membutuhkan minyak sawit. Uni Eropa yang selama ini tidak menyukai kelapa sawit ternyata juga terus meningkatkan penggunaan CPO. Peningkatan ini terlihat dari besarnya nilai impor CPO Uni Eropa terutama untuk digunakan sebagai biofuel.

    Merujuk pada data yang dilansir Jurnal International Institute for Sustainable Development (IISD), pada September 2013 lalu disebutkan bahwa 80% dari konsumsi CPO di negara-negara Uni Eropa, antara tahun 2006 hingga tahun 2012 terkait dengan pengembangan produksi biofuel. Sementara untuk penggunaan lain seperti kosmetik dan pangan nyaris tidak ada pertambahan.

    Dilihat secara keseluruhan konsumsi CPO di 27 negara Uni Eropa melonjak 41% dari 4,51 juta ton di tahun 2006 menjadi 6,38 juta ton di tahun 2012. Dari 27 anggota Uni Eropa, Belanda, –negara terbesar yang mengkonsumsi CPO, mengalami kenaikan pesat sebanyak 9.500% dari 5.000 ton menjadi 480.000 ton sepanjang periode itu. Sementara Jerman, — negara kedua terbesar, mengkonsumsi 300.000 ton di tahun 2012, diikuti oleh Italia 220.000 ton, Spanyol 200.000 ton dan Finlandia 200.000 ton.

    Yang menarik dalam laporan tersebut, IISD menyarankan agar produsen CPO di Indonesia dan Malaysia terus meningkatkan pasokan dengan membuat terobosan-terobosan penting untuk melayani pasar biodiesel Uni Eropa ini. Apalagi, Uni Eropa telah mewajibkan pencampuran setidaknya 10% dari pasar bahan bakar minyak mereka untuk transportasi sudah harus memenuhi persyaratan energi terbarukan di tahun 2020.

    Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan, pada 2014, produksi CPO Indonesia diprediksi mencapai 31,6 juta ton yang berasal dari produksi tahun ini yang diprediksi 29,5 juta ton dan ditambah sisa stok tahun 2013 yang berjumlah 2,1 juta ton.

    Untuk 2014, menurut Derom, kondisi cuaca akan lebih normal dari tahun 2013. Faktor lain berasal dari pematangan buah yang tertunda pada tahun 2013, baru matang pada tahun 2014. “Produksi bertambah dari hasil penanaman lahan pada 2009 dan 2010,” katanya.

    Dari total produksi 31,6 juta ton tadi, volume ekspor CPO dan produk turunan Indonesia diperkirakan mencapai 18 juta ton. Konsumsi CPO Indonesia akan meningkat menjadi 11,3 juta ton pada 2014 karena ditopang penggunaan konsumsi lokal untuk
    sektor industri, pangan, dan biodiesel. Ini berarti, konsumsi domestik tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 yang hanya sekitar 9 juta ton.

    Oil World mencatat, dari 232 juta hektar lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman penghasil minyak nabati di seluruh dunia, budidaya kelapa sawit hanya menggunakan 5% lahan untuk memasok 30% pasar minyak nabati dunia. Bandingkan dengan kedelai yang menggunakan 39% lahan untuk memasok 29% kebutuhan minyak nabati atau bunga matahari yang menggunakan 10% lahan untuk memberikan kontribusi 8% dalam pasar minyak nabati dunia.

    Data Oil World 2011 menunjukkan tingkat produktivitas kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Misalnya hanya menggunakan lahan sebanyak 12 juta hektar atau 5% dari total lahan 253,923 juta hektar, sedangkan kedelai hingga 41%.

    Immanuel Sutarto, Wakil Ketua Aprobi (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia) mengemukakan,hampir sebagian besar crude palm oil yang notabene merupakan sumber minyak nabati Indonesia diekspor, sementara negeri ini justru mengimpor bahan bakar minyak (BBM).  Saat ini, ujar dia, kapasitas terpasang biodiesel dalam negeri mencapai 5,6 juta KL per tahun. Namun, alih-alih bisa dioperasikan sesuai kapasitas, produksi biodiesel nasional hanya mampu memenuhi tak sampai 50% dari kapasitas.

    Tahun 2012 lalu misalnya, total produksi biodiesel hanya 2,2 juta kiloliter, masih jauh dari kapasitas maksimalnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30% atau 669 ribu kiloliter dikonsumsi dalam negeri, sedangkan 70% sisanya atau 1,5 juta kiloliter diekspor ke mancanegara, terutama Uni Eropa dan Amerika.

    Jika dibandingkan dengan produksi biodiesel tahun 2009, raihan produksi tahun 2012 tersebut nampaknya berhasil menunjukan peningkatan secara signifikan. Pada tahun itu, produksi biodiesel hanya sebanyak 200 ribu kiloliter/tahun. Tahun 2010 produksi pun masih stagnan di angka 243 ribu kiloliter/tahun. Fenomena terjadi pada tahun 2011, produksi biodiesel meroket tajam hingga 1,8 juta kiloliter.

    Jika diperhatikan, dari tahun ke tahun, rata-rata lebih dari 50% biodiesel diekspor ke luar negeri. Terlebih pada tahun 2011, ekspor biodiesel melesat hingga 80%, sementara konsumsi domestik hanya 20% saja.

    Lalu, bagaimana peluang ekspor untuk tahun 2013 ini? Ditanya begitu, Immanuel justru berkata mengejutkan. Menurutnya, tahun ini banyak hambatan bagi ekspor biodiesel. “Yang jelas ada hambatan ekspor ke Uni Eropa, karena ada beberapa perusahaan produsen biodiesel yang produknya dianggap dumping price. Lalu banyak pula yang menganggap bahwa produk dari minyak sawit tidak ramah lingkungan karena membuka hutan. Karena itu, kita harus prioritaskan pemenuhan kebutuhan biodiesel dalam negeri dulu, mengingat penggunaannya sesuai mandatory kan ditingkatkan mulai tahun ini,” jelasnya.

    Dan kebijakan mandatory peningkatan pemakaian biodiesel itu tentu bakal semakin menggairahkan semangat pengusaha Aprobi mengingat pasar ekspor komoditi ini sedang menghadapi masalah. Tak pelak, tanpa pikir panjang Aprobi pun langsung menyanggupi permintaan tersebut, asal penggunaan biodiesel ini diwajibkan secara konsisten. “Kita sanggup kok menggenjot produktivitas biodiesel, asal ya itu tadi penggunaannya diwajibkan,” tandas Sutarto.

    Sederhana saja, tujuannya memang agar penggunaan konsumsi dalam negeri meningkat. Sehingga tanpa ekspor pun, bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Mengingat memang, kondisi pasar eskpor yang tak begitu menggairahkan saat ini.

    Penggunaan biodiesel pada tahun 2012 lalu, lanjut dia, juga diyakini mampu mereduksi emisi karbon hingga 1,6 juta ton. Selain itu, industri prospektif ini juga telah mempekerjakan sebanyak 48.500 orang. Dan ditargetkan dengan peningkatan formulasi hingga 10% tersebut, jumlah pekerja akan meningkat menjadi 225 ribu orang. Tahun lalu penggunaan biodiesel atau biosolar ini telah mengurangi impor BBM sebanyak 6,4%.

    Sumber: Majalah Hortus