Beranda Berita utama Demokrasi Empat Nyawa Dinasti Bhutto

    Demokrasi Empat Nyawa Dinasti Bhutto

    68
    0

    Sejak PM Pakistan pertama Ali Khan tewas ditembak, sejarah mencatat pergolakan politik di Pakistan selalu berlumuran darah. Cita-cita demokrasi Pakistan yang digagas Zulfikar Ali Bhutto harus dibayar mahal dengan empat nyawa: dia sendiri dan ketiga anaknya.

    Menyusuri kota Karachi, kota terbesar di Pakistan, sulit untuk merasa aman dan nyaman. Lalu lintas semrawut, kota yang kotor, berdebu, juga tentara bersenjata di mana-mana. Sejak keluar di bandara pun kita sudah melihat betapa negara berpenduduk 205 juta ini sepertinya tidak sempat membangun dan berbenah diri.

    Ada tiga akar persoalan utama di Pakistan yang hingga hari ini belum sepenuhnya bisa diselesaikan: sektarianisme, radikalisme, dan ancaman junta militer. Meskipun saat ini Pakistan di bawah kepemimpinan sipil PM Imran Khan, bukan tidak mungkin sejarah berulang: kudeta militer. Seperti saat PM Zulfikar Ali Bhutto digulingkan Jenderal Ziaul Haq, atau PM Nawaz Sharif dikudeta oleh Jenderal Perves Musharaf.

    Dari rangkaian sejarah pergolakan politik di Pakistan, perjuangan dinasti Zulfikar Ali Bhutto untuk mewujudkan Pakistan yang demokratis dan rumah bagi semua golongan, menjadi sejarah perjuangan yang paling tragis. Zulfikar Ali Bhutto yang mengangkat Jenderal Zia Ul Haq sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, ternyata menjadi bumerang bagi Ali Bhutto. Tahun 1977, atas perintah Jenderal Zia Ul Haq, militer mengkudeta pemerintah dan menahan PM Ali Bhutto dan seluruh anggota kabinetnya. Meski sempat dilepaskan, tahun 1979 Ali Bhutto kembali ditahan atas tuduhan pembunuhan lawan politik dan dihukum gantung pada tahun yang sama.

    Dendam dan amarah pun meledak pada diri keempat anak Ali Bhutto yang sejak 1977 mencari suaka politik keluar Pakistan. Anak sulung Ali, Benazir Bhutto beserta ibu dan adik perempuannya tinggal di Inggris. Sedangkan anak kedua Murtaza lari ke Afghanistan dan mendirikan organisasi perlawanan terhadap pemerintahan Jenderal Zia Ul Haq. Salah satu aksi teror yang dilakukan oleh Murtaza Bhutto adalah membajak pesawat Pakistan International Airlines rute Peshawar – Karachi. Murtaza tewas dalam sebuah baku tembak dengan polisi di Kota Karachi pada tahun 1996.

    Sedangkan anak terakhir Shanawaz Bhutto aktif membantu organisasi para militer kakaknya. Namun tahun 1985, Shanawaz ditemukan tewas di apartemennya di Paris. Pemerintah Pakistan menyebutkan kematian Shanawaz Bhutto akibat penyalahgunaan narkoba, sementara Benazir Bhutto meyakini akibat diracun.

    Benazir Bhutto sendiri sukses menjadi PM Pakistan tahun 1988, sekitar tiga bulan setelah PM Jenderal Zia Ul Haq tewas akibat kecelakaan pesawat militer. Benazir menjabat PM selama dua periode sebelum digantikan oleh Nawaz Sharif. Dengan alasan stabilitas keamanan, Nawaz Sharif dikudeta oleh Jenderal Perves Musharaf. Pakistan pun kembali jatuh ke tangan militer. Benazir Bhutto yang tinggal di Dubai kembali ke Pakistan untuk menentang kepemimpinan militer dan kembali mengkampanyekan demokrasi di Pakistan. Setelah gagal dalam upaya pembunuhan pertama pada pagi harinya, pada 27 Desember 2007 malam, sebuah bom bunuh diri di Kota Rawalpindi Pakistan meledak dan menewaskan Benazir Bhutto.

    Sektarianisme, radikalisme, dan junta militer akan selalu menjadi hantu demokrasi dan kemajuan sosial ekonomi, di manapun itu. Tentu kita harus banyak belajar, tidak hanya dari negara-negara yang telah berhasil. Tetapi juga belajar dari negara lain yang boleh kita kategorikan gagal. (Tofan Mahdi)