Beranda Berita utama DPR: Eropa Tidak Ingin Komoditas Sawit Berkembang

    DPR: Eropa Tidak Ingin Komoditas Sawit Berkembang

    24
    0

    Anggota Komisi II DPR, Firman Subagyo mengatakan negara-negara Eropa melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) tidak ingin komoditas sawit berkembang di Indonesia. Hal ini terlihat dari usaha keras LSM menghambat yang mengarah upaya menggagalkan pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) Perkelapasawitan di DPR.

    “Saya monitor ada tekanan-tekanan dari LSM asing,” kata Firman di Jakarta pada 14 April 2019. Padahal, RUU Perkelapasawitan saat ini masih dalam tahap harmonisasi di Badan Legislatif (Baleg) DPR.

    Eropa selalu dan akan terus menghambat perkembangan industri sawit Indonesia karena ingin ingin melindungi komoditas pertaniannya. Eropa adalah produsen bunga matahari dan rapeseed yang dijadikan sebagai bahan baku minyak nabati. Keduanya kompetitor kelapa sawit tapi selalu kalah bersaing.

    Berdasarkan data Oil World, produktivitas bunga matahari hanya 0,48 ton per hektar (ha) dan rapeseed sekitar 0,67 ton per ha. Sementara itu produktivitas kelapa sawit rata-rata mencapai 3,74 ton per ha. “Karena lebih produktif, minyak sawit bisa dijual lebih murah,” katanya.

    Berdasarkan fakta inilah Eropa terus melakukan berbagai cara untuk menghambat atau mematikan industri sawit. “Strategi ini disuarakan oleh LSM berkedok lingkungan yang beroperasi di Indonesia,” kata dia. Isu lingkungan dipakai setelah isu kesehatan digunakan LSM pada tahun 2015 tapi gagal total.

    “Semua tudingan itu tidak benar. Yang sebenarnya terjadi adalah Eropa tidak mampu bersaing,” katanya. Karena itu, kelapa sawit yang kini sudah ditetapkan sebagai komoditas strategis nasional ini harus dilindungi melalui sebuah undang-undang (UU) khusus.