Beranda Berita utama Ekspor Minyak Sawit Kuartal Pertama Tahun Ini Naik 16%

    Ekspor Minyak Sawit Kuartal Pertama Tahun Ini Naik 16%

    12
    0

    Di tengah diskriminasi oleh negara-negara Uni Eropa dan kampanye negatif oleh sejumlah LSM, komoditas kelapa sawit terus bergerak untuk kesejahteraan petani, pekebun, dan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia dan produk turunannya justru naik 16% year on year (yoy) dari 7,84 juta ton di kuartal I 2018 menjadi 9,1 juta ton.

    Ekspor CPO pada Maret naik 3% dibandingkan Februari atau meningkat dari 2,88 juta ton menjadi 2,96 juta ton. Khusus untuk ekspor CPO dan produk turunannya pada Maret, hanya naik menjadi 2,78 juta ton dari 2,77 juta ton di Februari.

    Ketua Umum Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan adanya sentimen Renewable Energy Directive II (RED II) menjadi salah satu penyebab kinerja ekspor Indonesia kurang membanggakan. Tak hanya itu, perekonomian negara tujuan utama ekspor yang melesu seperti India turut berpengaruh pada permintaan CPO.

    Begitu juga dengan perang dagang Amerika Serikat dan China yang mempengaruhi komoditas kedelai kedua negara sehingga turut berujung pada penumpukan stok kedelai di Amerika SEikat. “Tahun ini mungkin masih berat pada industri ini karena Amerika dan China berseteru lagi,” kata Joko Supriyono di Jakarta pekan ini.

    Dalam catatan GAPKI, ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke India sepanjang Maret ini menurun signifikan atau 62% month on month, atau dari 516.530 ton di Februari menjadi 194.410 ton. Tak hanya dari Indonesia, permintaan minyak sawit India ke Malaysia pun mengalami penurunan. Tak hanya India, penurunan permintaan CPO juga dialami oleh Afrika sebanyak 38%, Amerika Serikat menurun 10% dan Uni Eropa 2%.

    Sementara, ekspor CPO dan produk turunannya ke negara lain seperti Korea Selatan, Jepang dan Malaysia justru mengalami peningkatan pada Maret ini.

    Sedangkan penyerapan biodiesel sepanjang Maret tercatat 527.000 ton atau turun 19% dibandingkan Februari yang tercatat sebesar 648.000 ton. Penurunan ini karena keterlambatan permintaan dari Pertamina sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat.