Beranda Berita utama GAPKI Optimistis Industri Sawit Semakin Berkembang

    GAPKI Optimistis Industri Sawit Semakin Berkembang

    32
    0

    Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan pihaknya tetap optimistis industri minyak kelapa sawit terus berkembang di tengah tantangan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tantangan dari luar negeri salah satunya Renewable Energy Directive II (RED II) dari Eropa yang menerapkan kebijakan penghapusan penggunaan biodiesel berbasis CPO.

    Sedankan dari dalam negeri masih banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menekan industri ini untuk keterbukaan informasi HGU. Dari pasar, industri dibayangi kekhawatiran harga CPO global yang trendnya terus menurun.

    “Di tengah pusaran badai seperti itu, GAPKI tetap optimistis. Meski dalam kekalutan, industri ini terus berperan dalam menambal neraca perdagangan Indonesia yang minus dengan kinerja ekspornya,” kata Joko Supriyono dalam Buka Puasa Bersama GAPKI di Jakarta pada 15 Mei 2019.

    Pada triwulan pertama 2019, kinerja ekspor CPO secara keseluruhan sekitar 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau dari 7,84 juta ton triwulan I 2018 meningkat menjadi 9,1 juta ton di triwulan I 2019. “Dengan kinerja ini, artinya ekspor CPO Indonesia masih tetap tumbuh meskipun masih di bawah harapan,” ujarnya

    Pada Maret 2019, kinerja ekspor CPO naik 3% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 2,88 juta ton meningkat menjadi 2,96 juta. Sementara ekspor khusus CPO dan produk turunannya hanya meningkat sangat tipis yaitu 2,77 juta ton di Februari sedikit terkerek menjadi 2,78 juta ton di Maret.

    Sentimen RED II Uni Eropa memang menggerus kinerja ekspor Indonesia di samping lesunya perekonomian negara tujuan utama ekspor, terutama India. Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok yang tak kunjung usai juga berpengaruh terhadap perdagangan kedelai kedua negara yang berujung pada menumpuknya stok kedelai di AS.

    “Perlambatan pertumbuhan ekonomi India yang hampir memasuki ambang krisis menyebabkan berkurangnya permintaan minyak sawit India baik dari Indonesia maupun Malaysia. Penurunan permintaan juga diikuti negara Afrika 38%, Amerika Serikat 10%, Tiongkok 4%, dan Uni Eropa 2%,” katanya.

    Namun, ekspor CPO ke negara lain-lain meningkat 60% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang cukup signifikan datang dari Asia khususnya Korea Selatan, Jepang dan Malaysia.

    Sementara itu, penyerapan Biodiesel di dalam negeri, sepanjang Maret ini mencapai lebih dari 527 ribu ton atau turun 19% dibandingkan dengan bulan Februari lalu yang mencapai 648.000 ton. Turunnya penyerapan biodiesel disinyalir karena keterlambatan permintaan dari Pertamina sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat.