Beranda Berita utama Harga CPO Diprediksi Menunjukkan Trend Meningkat

    Harga CPO Diprediksi Menunjukkan Trend Meningkat

    12
    0

    Fluktuasi jumlah produksi minyak sawit mentah di Indonesia dan Malaysia diprediksi membuat harga CPO bisa mencapai yang tertinggi pada Juni 2018 nanti. Hal ini disampaikan oleh Direktur Godrej International Ltd. Dorab Mistry yang melihat trend peningkatana harga minyak sawit mentah terus meningkat.

    Mistry mengatakan perdagangan minyak kelapa sawit akan menguat hingga mencapai 2.700 ringgit per ton pada Juni mendatang. Benchmark CPO berjangka secara bertahap dapat meningkat menjadi 2.700 ringgit atau US$ 690 per ton pada Juni. “Angka ini merupakan yang tertinggi sejak November,” kata Mistry seperti dikutip dari Bloomberg.

    Mistry memangkas perkiraan produksinya untuk petani papan atas Indonesia dan Malaysia masing—masing sebesar 500.000 ton menjadi 37,5 juta ton dan 20,5 juta ton. Kedua negara produsen tersebut berkontribusi hingga 85% dari total output CPO global.

    Mistry menjelaskan, harga CPO telah naik 2,7% pada Februari di level 2.559 ringgit per ton lantaran terjadinya kekeringan di Argentina yang menyebabkan harga rivalnya kedelai menjadi melonjak. Namun, harga kemudian turun sekitar 4% pada bulan ini setelah konsumen utama India menaikkan bea masuk hingga 44% dari sebelumnya 30%.

    “Dalam skenario bullish alternatif, pohon kelapa sawit dapat menderita stres saat kabut asap kembali ke Asia Tenggara, membuat produksi Malaysia tidak berubah pada 2018 dan produksi Indonesia naik hanya 2 juta ton,” ujar Mistry.

    “Konsumsi tambahan 1 juta ton biodesel di Indonesia bisa menjadi game charger,” lanjutnya. Dalam skenario tersebut, akumulasi stok dari kedua negara bisa berada di bawah 4,5 juta ton atau bahkan mendekati 4 juta ton pada Juli.

    Sementara itu, menyikapi tarif bea masuk CPO India, Mistry memperkirakan pajak impor tersebut akan jatuh pada Mei lantaran inflasi kemungkinan akan segera menjadi masalah di negeri Bollywood.