Beranda Berita utama Hingga April 2018 Ekspor Minyak Sawit USD 7,04 Miliar

    Hingga April 2018 Ekspor Minyak Sawit USD 7,04 Miliar

    23
    0

    Kinerja ekspor minyak sawit hingga April 2018 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor minyak sawit, termasuk biodiesel, oleofood dan oleochemical turun sebesar 4% secara year on year (yoy). Sejak Januari – April 2018, ekspor minyak sawit sebanyak 10,24 juta ton. Sedangkan ekspor minyak sawit pada periode yang sama tahun lalu sebesar 10,70 juta ton.

    Dari jumlah ini, nilai ekspor turun 13% secara yoy dari US$ 8,6 miliar menjadi US$ 7,04 miliar. Tapi, produis minyak sawit hingga April 2018 justru naik 4% menjadi 14,1 juta ton. “Produksi kita naik, tetapi ekspor turun sehingga nilai ekspor turun. Dari sisi harga, harga minyak sawit juga turun,” kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dalam acara bula puasa bersama di Hotel Shangri-La Jakarta pada 30 Mei 2018.

    Sepanjang April, harga CPO global berkisar US$ 640 – US$ 680 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 662,2 per metrik ton. Harga rata-rata April ini menurun US$ 14 dibandingkan harga rata-rata pada Maret yang berkisar US$ 676,2 per metrik ton. Ekspor ke negara-negara pasar sawit Indonesia seperti China, India, Uni Eropa dan Amerika Serikat mengalami penurunan. Sementara ekspor ke negara yang mayoritas penduduknya muslim seperti Bangladesh, Negara Timur Tengah dan Pakistan justru meningkat.

    Dalam empat bulan pertama 2018, peningkatan impor minyak sawit Bangladesh sebesar 66% atau dari 358.870 ton menjadi 595.090 ton. April 2018 merupakan rekor pertama Bangladesh dengan impor minyak sawit di atas 200.000 ton. Sementara, impor negara-negara Timur Tengah pada April meningkat 39% dari 146.840 ton di Maret menjadi 204.210 ton. Impor minyak sawit Pakistan di April juga meningkat 0,23% dari bulan sebelumnya.

    “Kenaikan impor oleh Bangladesh ini memanfaatkan kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh India sehingga industri olahan di Bangladesh mendapatkan keuntungan besar. Impor Bangladesh bisa juga dipengaruhi oleh keberhasilan dari misi dagang Kementerian Perdagangan RI bersama Asosiasi Sawit pada Maret 2018,” jelas Joko.