Beranda Berita utama Indonesia dan Malaysia Boikot Uni Eropa Soal Diskusi ILUC

    Indonesia dan Malaysia Boikot Uni Eropa Soal Diskusi ILUC

    36
    0

    Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan Indonesia dan Malaysia sepakat memboikot pembahasan parameter konsep Indirect Land Usage Change (ILUC) dengan Uni Eropa. Sikap tegas ini sebagai balasan atas diskriminasi tiada henti terhadap komoditas minyak sawit yang dilakukan Uni Eropa.

    Derom mengatakan pihak sudah tegas menolak. Begitu juga dengan Malaysia. “Biarlah kalau mereka punya konsep biarkan saja, tapi kami ada jalan lain,” kata Derom di Jakarta akhir pekan lalu. Jika Uni Eropa menerbitkan ILUC, Indonesia sudah siap membawa kasus ini ke badan organisasi dagang dunia atau WTO.

    Uni Eropa rencananya menerbitkan pedoman delegated act yang memasukkan kelapa sawit dalam kategori high-risk indirect land usage change (ILUC) pada 1 Februari lalu. Pedoman ini tertuang dalam perjanjian renewable energy directive II (RED II) mengenai penggunaan bahan bakar nabati di UE.

    Rencana ini tertunda tanpa alasan jelas. Apalagi setelah hasil studi International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang dibiayai Bank Dunia terbit pekan lalu. Hasil studi IUCN menjadi bukti untuk membantah tudingan Eropa yang selama berlindung di balai isu lingkungan dan deforestasi.

    Studi IUCN justru mengungkapkan hal menarik. Komoditas penghasil minyak nabati yang ditanam di Eropa ternyata lebih boros lahan hingga 9 kali lipat dibandingkan kelapa sawit. Hasil studi ini dijadikan pegangan oleh Indonesia untuk melawan tuduhan Eropa yang sebenarnya bermuatan politik dagang.