Beranda Berita utama Kalau di Istanbul Pilih Metro atau Tram, Jangan Taksi

Kalau di Istanbul Pilih Metro atau Tram, Jangan Taksi

147
0

Pilih naik metro atau tram, jangan taxi. Terlepas dari banyak hal menarik dan baik di Istanbul, pelayanan taxi di kota ini sangat buruk. Even worse than Jakarta. Awalnya tidak percaya, tetapi setelah merasakan sendiri, cerita-cerita di YouTube tentang taxi di Istanbul benar adanya.

Sebagai orang asing (turis), menggunakan jasa taxi (sebagian besar taxi berwarna kuning) di sini, kemungkinannya dua: pertama, diputar-putar pada rute yang lebih jauh. Kedua, driver menetapkan ongkos di depan tentu dengan biaya lebih mahal. Bahkan, ongkos yang disebutkan driver di awal bisa berubah saat di tengah perjalanan.

Seperti saat kami naik dari terminal bus ke hotel di kawasan Sultanahmet sepulang dari Kota Bursa, ketika akan masuk dibilang ongkosnya 75 TL (Turkish Lira), tetapi pas di tengah jalan driver meminta naik jadi 140 TL dengan alasan jumlah penumpangnya 5 orang dan harus melewati jalur yang lebih aman dari polisi. Akhirnya, kami nego dan harga turun menjadi 120 TL.

Soal taxi ini, Roma lebih baik daripada Istanbul, selain karena murah juga tidak pernah punya pengalaman ketemu driver yang menyesatkan. Taxi di Amsterdam atau Paris juga baik, tetapi ongkos taxi di dua kota itu sangat mahal. Bahkan di Paris ada surcharge (biaya tambahan) jika melewati kemacetan jalan.

Namun barokallah, pengalaman pribadi saat di Paris bulan Ramadhan tahun lalu, ketemu driver sesama Muslim (dari Maroko) dan kami memperkenalkan diri sebagai Muslim dari Indonesia, surcharge-nya digratiskan. Meski pelayanan taxi-nya buruk, Kota Istanbul tetap sangat menarik dikunjungi bahkan ketika harus menjadi independent travelers (tanpa tour agent) seperti kami.

Risiko membayar taxi lebih mahal tentu tidak menjadi soal karena masih banyak moda transportasi publik yang juga nyaman: bus, metro, ataupun tram. Kota Istanbul juga sangat aman, nyaris tidak ada kriminalitas apalagi sampai ada turis yang diculik, dirampok, atau dibunuh. Tidak ada itu. Copet juga tidak ada di Istanbul, di kota-kota Eropa lain seperti Paris, Amsterdam, atau Roma, masih ada risiko kecopetan.

Di sini, insya Allah aman dan nyaman. Pengemis juga nyaris tidak ada, apalagi pengamen jalanan di lampu merah seperti di Roma. Overall, peradaban Turki mungkin belum se-sophisticated negara-negara Eropa Barat yang sudah maju seperti Swiss, Jerman, atau Belanda.

Tetapi dibandingkan negara-negara Eropa Timur pasti Turki jauh lebih maju. Pun dibandingkan negara tetangga mereka Yunani, Turki lebih maju. Dibandingkan Italia, mungkin fifty-fifty, hampir setara. Dibandingkan Jakarta bagaimana? Jujur, Istanbul sudah menjadi kota dunia, juga beberapa kota lain di Turki seperti Ankara, Bursa, dan Kayseri.

Mengutip www.dailysabah.com, pada periode Januari-Oktober 2018 lalu, ada 40 juta wisatawan asing yang berkunjung ke Turki. Jauh di atas jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia yaitu 14,4 juta orang. Jika belajar dari berbagai kota yang menjadi jujugan utama di dunia, saya melihat ada beberapa hal yang sama mengapa turis mau datang ke sebuah kota atau negara, bahkan berulang-ulang. Hal-hal tersebut antara lain: keamanan dan kenyamanan, hospitality (keramah-tamahan) warga, akses dan infrastruktur menuju lokasi wisata.

Indonesia adalah negara yang aman, tapi di mata turis asing, apakah kita sudah menjadi negara yang nyaman dan menjadi tuan rumah yang ramah seperti kota-kota di dunia lainnya. Mari kita terus berbenah dan Indonesia pasti bisa mencapai target kedatangan 20 juta wisatawan mancanegara. Salam dari Istanbul. | Tofan Mahdi