Beranda Berita utama Kenaikan Tarif Impor India Bebani Harga CPO

    Kenaikan Tarif Impor India Bebani Harga CPO

    15
    0

    Rencana India meningkatkan tarif impor minyak sawit mentah dikhawatikan menjadi beban bagi harga CPO. Hal ini bisa dilihat dari harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang terus memperpanjang penurunan sejak pekan lalu. Rencana India untuk kembali mengerek pajak impor semakin membebani pergerakan harga CPO. Bahkan kabar tersebut menutupi sentimen kenaikan permintaan menjelang Ramadan.

    Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (16/4) sore, harga CPO kontrak pengiriman Juni 2018 di Malysia Derivatives Exchange turun 0,38% ke level RM 2.390 per metrik ton. Dibandingkan pekan sebelumnya koreksinya sudah mencapai 3%.

    “Kenaikan permintaan jelang Ramadan dari kawasan Timur Tengah belum direspons positif,” ujar Deddy Yusuf Siregar, analis PT Asia Tradepoint Futures seperti dikutip situs Kontan.

    Saat ini, fokus pasar sedang tertuju ke India. Setelah menaikkan pajak impor CPO dari 7,5% menjadi 15%, kini India berencana mengerek tarif menjadi 44%. Kenaikan yang cukup signifikan itu menimbulkan kekhawatiran bagi para investor.

    Sejatinya, ekspor CPO Indonesia dan Malaysia ke India masih tetap tinggi. Surveyor kargo SGS Malaysia Sdn Bhd melaporkan pada Maret 2018 ekspor telah meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) merilis pada periode yang sama ekspor CPO ke India naik 32,01% year on year (yoy) menjadi 7,63 juta ton.

    Sementara itu, kebijakan pajak di Malaysia masih belum terlalu berpengaruh. Negara ini malah kembali menangguhkan pajak ekspor CPO hingga April 2018. Rencananya pemberlakuan pajak ekpor 5% baru akan dimulai pada Mei nanti. Selain pajak, laju harga CPO juga masih tertahan oleh kenaikan produksi. Selama Maret 2018, produksi minyak sawit mentah Malaysia naik 17,2% menjadi 1,57 juta ton.

    Deddy melihat tekanan terhadap harga semakin diperparah dengan adanya larangan jaringan supermarket besar Iceland Co untuk menggunakan kandungan minyak sawit terhadap produk yang dijualnya. Selama kondisi tersebut masih berlangsung ini akan menjadi sentimen negatif. Apalagi pasar Eropa adalah pasar potensial dengan jumlah kebutuhan mencapai 6 juta-7 juta ton per tahun.