Beranda Berita Pilihan Melacak Sejarah Demak : Pangeran Sabrang Lor Itu Yat Sun

    Melacak Sejarah Demak : Pangeran Sabrang Lor Itu Yat Sun

    1262
    0
    ilustrasi/Kota Demak

    Sejarah masih gelap, terutama menyangkut peranakan China yang punya kuasa di Tanah Jawa. Ini adalah sedikit pelacakan yang dilakukan Prof DR Slamet Iman Santoso almarhum soal itu.

    Siapa sebenarnya Adipati Bintara? Babad Tanah Djawi menyebutkan, Raden Adipati Bintara meninggalkan enam anak. Yang sulung perempuan bernama Ratu Mas, lalu Pangeran Sabrang Lor, yang mewaris tahta kesultanan. Tapi itu tidak lama. Dia meninggal dunia tanpa anak. Kemudian Pangeran Seda Lepen, Raden Trenggana, Raden Kanduruwan dan Raden Pamekas.

    Soal Raden Adipati Bintara, Serat Kanda menuturkan, bahwa Adipati Bintara mempunyai tiga orang anak. Istri tertua (anak Sunan Giri) melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana. Istri muda yang berasal dari Randu Sanga, melahirkan Raden Kanduruwan. Dari istri ketiga, Raden Patah mendapat anak Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa. Raden Surya menetap di seberang timur sungai dan kawin dengan Retna Lembah, putri Raden Gugur.

    Babad Tanah Djawi menyebut nama Pangeran Sabrang Lor. Serat Kanda menyebut Raden Surya, yang menetap di seberang timur sungai. Perbedaan penyebutan itu terdapat pada nama arahnya, yakni utara dan timur.

    Perbedaan penyebutan itu tidak merupakan persoalan besar. Jika penyebutan itu dihubungkan dengan berita dari Suma Oriental yang berasal dari Tome Pires, maka pesanggrahan Raden Surya itu terletak di sebelah utara Sungai Tanggulangin, di Desa Tidunan, membawahi daerah sekitarnya, termasuk Jepara.

    Penobatan Pangeran Sabrang Lor atau Raden Surya harus berlangsung, sesudah Raden Patah wafat (tahun 1518). Menurut berita Tionghoa dari klenteng Semarang, yang menggantikan Djin Bun pada tahun 1518 adalah Yat Sun.

    Dengan demikian, Pangeran Sabrang Lor (dari Babad Tanah Djawi) dan Raden Surya yang menetap di seberang timur sungai (dari Serat Kanda) sama dengan Yat Sun. Karena itu, Yat Sun adalah sama dengan Pate Unus (dari Suma Oriental). Maka, Pangeran Sabrang Lor dan Raden Surya sama dengan Pati Unus.

    Dalam suratnya kepada sang raja, tanggal 8 Januari 1515 Jorge d’Albuquerque menyebut tiga orang dari Jawa yang membahayakan, yaitu Pate Quitis, Pate Amoz dan Pate Rodym. Yang dimaksud Pate Quitis adalah Pate Kadir, kepala suku Jawa di Malaka. Yang dimaksud Pate Amoz adalah Pate Unus. Sedangkan Rodym adalah Raden Patah.

    Tokoh Pate Kadir pada waktu Pires ada di Malaka tahun 1515, menyingkir ke Cirebon kemudian kembali ke Malaka. Sepuluh hari setelah Alfonso d’Albuquerque meninggalkan Malaka, Pate Kadir memimpin pemberontakan Suku Jawa di Malaka.

    Pemberontakan itu gagal. Pate Unus alias Yat Sun menyerang Malaka pada akhir tahun 1512. Dan Raden Patah sebagai Sultan Demak, tetap merupakan saingan berat orang-orang Portugis di Malaka.

    Tampaknya, tidak jauh dari kenyataan. Putra mahkota Yat Sun mengambil nama Islam: Yunus. Sebab, dalam berita-berita Portugis dan berita Pigafetta, ia selalu disebut Pate Unus. Nama itu diperoleh dari orang-orang Jawa yang menetap di Malaka dan yang merantau ke pelbagai kota pelabuhan. Namun, berita dari klenteng Semarang tidak menyebutkan nama Islam.

    Uraian Tome Pires tentang Rodin sebagai berikut. Rodin adalah raja Demak. Ia seorang ksatria yang berpandangan luas dan bersahabat dengan Pate Zainal di Gresik. Segenap pembesar di Jawa adalah sahabatnya. Ia sangat senang karena perkawinan putri-putri dan adik perempuannya dengan para pembesar sangat bertuah.

    Rodin mempunyai tentara sebanyak 30 ribu orang dan kekuatan laut sebanyak 40 jung. Karena tipu muslihatnya, ia berhasil menundukkan Japura yang berbatasan dengan negaranya.

    Rodin mempunyai anak yang disebut oleh Tome Pires sebagai Rodin Muda. Pada waktu Tome Pires di Malaka, ia berusia sekitar 30 tahun. Rodin Muda berhasil merebut Palembang dan Jambi. Selama lima tahun terakhir Rodin Muda tidak lagi bernafsu perang. Ia bermusuhan dengan orang-orang Melayu dan orang-orang Portugis. Sedang tentang asal-usul Rodin, Tome Pires berkata bahwa Rodin keturunan budak di Gresik.

    Dapat dipastikan, bahwa yang dimaksud Rodin adalah Raden Patah atau Raden Adipati Bintara. Rodin adalah bentuk ubahan dari sebutan Raden. Ketika Tome Pires di Malaka (tahun 1511–1515), Raden Patah ketika itu masih hidup. Raden Patah baru meninggal pada tahun 1518 saat berusia lanjut.

    Tampaknya, yang dimaksud dengan Rodin Muda adalah adik Yat Sun yang menetap di Demak yang bernama Tung Ka Lo atau Raden Trenggana. Ia berumur sekitar 30 tahun pada waktu itu. Sebab, Raden Patah kawin sekitar tahun 1475. Memang, tentang asal-usul Rodin, informan Pires kurang jitu. mo/jss