Beranda Berita utama Menag Minta Agama Tidak Dimanipulasi untuk Kepentingan Politik

    Menag Minta Agama Tidak Dimanipulasi untuk Kepentingan Politik

    26
    0

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan kehadiran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sangat memiliki relevansi yang tinggi, terlebih Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi pada 2018 dan 2019 mendatang.

    Menurutnya, kehadiran tokoh-tokoh umat beragama memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kancah perpolitikan. Untuk itu, ia meminta agar politikus tidak menggunakan agama sebagai pembenaran untuk kepentingan politik jelang pesta demokrasi.

    “Jangan menggunakan agama, jangan memperalat agama, jangan memanipulasi, eksploitasi agama dalam pengertian sisi luarnya itu untuk digunakan sebagai faktor pembenar atau kepentingan politik praktis pragmatis,” kata Lukman usai menghadiri Rakornas FKUB di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu, (18/4/2018).

    Lukman mengungkapkan, agama jangan hanya dilihat dari sisi luarnya saja yang hanya melihat agama secara formal dalam bentuk ajaran, karena dengan begitu akan banyak ditemukan perbedaan, namun juga harus dilihat dsri segi esensi dan substansi ajarannya.

    “Maka jangankan dalam satu tubuh agama, antara satu agama dan agama lainnya kita tidak akan temui perbedaan. Karena pokoknya, itu berlaku universal misalnya keadilan, menjaga HAM, persamaan di depan hukum. Banyak nilai universal pada setiap agama yang setiap agama memiliki ajaran yang sama,” paparnya.

    Maka, sambungnya, dalam konteks tahun politik harus memiliki kearifan bersama dalam melihat sisi dalam ajaran agama itu sendiri. Sebagai masyarakat yang religius, seluruh masyarakat tidak bisa melepaskan diri dari nilai agama. Sejak lahir sampai meninggal dunia.

    “Jadi yang tidak diperkenankan adalah rumah ibadah, ceramah agama diperkenankan untuk politik praktis. Misalnya mari dukung calon a, jangan calon b. Dukung Partai A, jangan Partai B, Ini yang tidak boleh,” paparnya.

    Justru tambah Lukman, yang harus kita kedepankan adalah ceramah agama yang punya nuansa politik tapi terkait nilai-nilai universalnya.

    “Banyak nilai universal agama yang harus dibawa semua kita, itu sisi dalam terkait esensial ajaran agama itu sendiri. Dengan begini jangan sampai kita tercerabut dari inti agama yang sifatnya membuat kita saling terbelah satu dengan yang lain,” tukasnya.