Beranda Berita utama Menikmati Hotel Islami di Amsterdam Selama Ramadan

    Menikmati Hotel Islami di Amsterdam Selama Ramadan

    56
    0

    Sesama Muslim itu saudara. Hadits ini pasti sudah sering kita dengar dan baca. Tetapi karena kita hidup di negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dawuh Rasulullah SAW tersebut tidak pernah benar-benar kita rasakan. Buktinya, jangankan untuk persoalan yang besar, di jalan raya pun kita gontok-gontokan. Tidak peduli pihak yang kita “gontok” tadi juga saudara Muslim kita dan tidak peduli saat ini sedang berada di bulan suci Ramadhan. Apalagi sampai membunuh manusia atau sesama Muslim, jelas kita bukan saja tidak patuh, tetapi juga seperti melawan dawuh Rasulullah SAW tersebut.

    Tentu saja neraka jahanam tempatnya di akhirat kelak. Setelah berkunjung ke Roma dan Paris pada dua hari pertama Ramadhan ini, kota berikutnya yang kami singgahi adalah Amsterdam. Saya dan beberapa teman dari Indonesia melanjutkan perjalanan dari Paris ke Amsterdam dengan bus umum AKAN (antar kota antar negara) -tentu saja ini istilah saya sendiri.

    Cukup jauh lebih 500 km jarak Paris-Amsterdam yang normalnya dengan bus ditempuh 8 jam melewati beberapa kota di Belgia seperti Antwerp dan kota Belanda lainnya yaitu Den Haag sebelum masuk ke Kota Amsterdam. Tiba di Amsterdam sekira jam 21.00 (telat 1 jam) karena kemacetan yang parah saat melintasi jalan tol di sekitar Belgia. Karena macetnya parah, saya menyebutnya ini jalan tol Jagorawi Cabang Belgia. Dengan sebutan ini, beberapa teman tertawa. Malam itu (tapi langit masih terang ya), udara di Amsterdam jauh lebih dingin dibandingkan Roma atau Paris. Suhu udara perkiraan saya sekitar 10 derajat celcius dan embusan anginnya cukup kencang.

    Dari Paris awalnya memakai jas biasa, akhirnya di terminal kedatangan di Amsterdam saya rangkap dengan jaket yang rada tebal. Kami tiba di hotel di pusat kota Amsterdam sekitar jam 21.25, Hotel Prinsen di pusat kota. Hotel bintang tiga dengan bentuk bangunan seperti rumah-rumah lama di Belanda. “Are you Mahdi? Assalamualaikum,” sapa resepsionis hotel menyapa ramah.

    Rupanya dia sudah membaca reservasi kami bahwa akan ada tamu dari Indonesia. “Welkom”. Fuad, nama resepsionis itu, seorang lelaki paruh baya asal Maroko yang sudah 20 tahun tinggal di Amsterdam dan bekerja di hotel tersebut. “After your reservation done, you may go to the room and please come back here to this lobby. I provide you some food for break fasting. You are fasting or not, because you are musafir,” kata Fuad dengan Bahasa Inggris beraksen Maroko. “We are keep fasting, Alhamdulillah,” jawab saya.

    Sekira 10 menit setelah berbuka air putih dan kebab Turki yang kami beli di rest area saat bus istirahat di daerah La Hayye, saya menuju ke lobi. Dan benar saja, Fuad sudah menyiapkan meja lengkap dengan menu takjil buka puasa. Ada kurma, apel, pisang, dan pir. “If you need a coffee, tea, or hot chocolate, please help yourself.” Wah kami sangat tersanjung. Fuad melanjutkan, “This service is only for you and our Moslem brothers, we have 100 guests here, impossible we provide this for everybody. I am fasting also.”

    Selama makan, resepsionis ditutup dan Fuad asyik ngobrol dengan kami. Bahkan ada seorang tamu yang diminta Fuad menunggu 30 menit untuk dilayani reservasi karena dia sedang berbuka puasa dan akan shalat Maghrib. “There are a lot of mosque in Amsterdam. In Nederland there are around 3 million Moslem and in Amsterdam around 500 hundred thousand.” Cukup besar batinku, tapi data ini belum saya cek di Google. Usai berbuka, saya pamit ke kamar untuk shalat Maghrib.

    Seperti halnya saat di Roma dan Paris, jatah sarapan kami hangus karena sarapan baru buka jam 7.00. “If you want to eat sahur, let me check to my friend who in charge tonite, whether he can provide sahur for you,” kata Fuad. Dia berjanji memberikan kabar segera. Karena sangat capek, saya pun langsung tertidur. Bangun jam 3 pagi dan satu pesan WA dari anggota rombongan masuk. “Ada sahur jam 3.30 di lobi.” Tak lama saya naik ke lobi dan langsung menyapa lelaki seorang lelaki muda berwajah Eropa Timur Tengah. “Assalamualaikum, I am Mahdi.” “Waalaikumsalam, I am Harun. Please have sahur, we provide this menu special for you. All food is halal, no worry,” kata Harun ramah.

    Lelaki asal Turki ini pun mengatakan senang bisa melayani kami dengan makanan sahur. Kata dia, sudah menjadi kewajiban dia melayani sesama Muslim lainnya, apalagi saat bulan suci Ramadhan. “You are not eating sahur, Harun?” tanya saya. “My sahur just with this mineral water,” katanya. Harun mengatakan, early breakfast ini hanya disediakan untuk tamu Muslim yang akan berpuasa. Dan kebetulan saat itu hanya kami tamu yang Muslim dan tetap berpuasa. “You are very lucky, almost all hotels are fully booked since last week,” katanya.

    Saya sendiri tidak tahu dan tidak pernah mendengar nama hotel ini sebelumnya. Saya juga baru tiga hari lalu memesan kamar di sini melalui sebuah travel agent di Kota Roma Italia. Jadi kalau kemudian bertemu dengan saudara Muslim kami Fuad dan Harun, tentu saja itu atas rencana Allah SWT. Di akhir makan sahur, saya pribadi menyampaikan rasa terima kasih atas pelayanan yang beyond hospitality seperti ini. Harun tersenyum dan mengaku senang juga melayani kami sembari menuliskan alamat salah satu masjid terdekat dari hotel sekiranya mau shalat wajib atau tarawih malam nanti. “Sukron katsiron”.

    Sebagai balasan atas semua kebaikan tersebut, melalui akun sosial media saya ini, silakan teman-teman dari Indonesia yang sedang tugas atau liburan ke Amsterdam, silakan bermalam di Hotel Prinsen ini. Meskipun kamarnya kecil, tapi letaknya strategis di pusat kota dan hospitality karyawan hotelnya, bagi saya luar biasa. Selamat menjalankan ibadah puasa. Amsterdam, 19 Mei 2018 jam 5.11 pagi waktu setempat. (laporan Tofan Mahdi)