Beranda Berita Pilihan Makrifat Burung Surga (21) : Minum Arak Baca Bismillah Itu Haram

Makrifat Burung Surga (21) : Minum Arak Baca Bismillah Itu Haram

1568
0

Mendapat jawaban yang begitu lengkap tentang bismillah, kini Menco kembali bertanya tentang hikmah dan derajat dari lafadz bismillah.

Mendengar pertanyaan ini, burung Bayan jadi serius. Ia mulai menjawabnya secara diplomatis. “Itu tergantung pekerjaan yang akan dilakukan. Jika berkaitan dengan persoalan yang wajib seperti Fatihah dalam salat, maka bismillah itu wajib. Jika sunnah, bismillah itu sunnah. Begitu pula jika pekerjaan haram atau makruh maka membaca bismillah itu juga haram hukumnya seperti meminum minuman keras,” jawab Bayan.

“Tapi mengapa jika bismillah ditulis di awal kalimat tidak memakai lam dan alif, huruf sin memakai tiga lekuk, hingga jumlah hurufnya menjadi 19 buah,” tanya Menco lagi.

Jawab Bayan, “Bismillah ditulis lebih dahulu karena pada waktu zaman dluriyyat Tuhan memanggil dan dijawab “alastu birabbikum”. Tuhan lalu berfirman “bala”.

Huruf sin berlekuk tiga sebagai simbol sirotol mustaqim yang juga berlekuk tiga sebagai simbol perjalanan selama tiga ribu tahun. Lafadz bismillah itu merupakan empat kalimat sungai surga yang terdiri dari empat macam air, yaitu (1) air tawar, (2) air madu, (3) air susu, dan (4) air manis.

Jumlah hurufnya 19 karena malaikat penjaga neraka yang disebut zabaniyyah itu terdiri dari 19 kelompok. Siapa yang membaca bismillah dalam salat sesudah takbir, dosanya akan diampuni. Dengan meminum empat air di bengawan (sungai) surga, maka akan selamat dari siksa neraka jahanam.

Bayan lalu meminta Menco untuk berhenti bertanya dulu karena hari telah malam. Tapi Menco seperti tanpa peduli, kendati ia telah banyak menerima nasehat yang diberikan Bayan berdasar dalih ijmak atau hadits. “Hanya yang perlu kamu ingat, walaupun mempunyai ilmu sejagad, tetapi jika tidak diamalkan justru akan berdosa besar,” kata Bayan mengingatkan. Menco masih terus bertanya dan bertanya lagi, tidak peduli pada usulan Bayan.

Menco bertanya, manakah yang dipilih Bayan antara di bawah dan di atas, di dalam atau di luar. Bayan terpaksa harus menjawab. Kata Bayan, jika di atas seringkali menyebabkan orang takabur bahkan terkadang sampai mengaku dirinya sebagai Tuhan. Jika di bawah, bisa saja seseorang itu menjadi kafir.

Memilih di luar itu seperti pendengaran yang lahiriah, tetapi memilih di dalam bisa riya (sombong) dan merasa benar sendiri. Berdasar itu, kata Bayan, ia tidak membedakan fungsi dari kelima panca indera, karena pertanda orang yang berilmu (alim) ialah tawadldlu’, ikhlas, pasrah dan hatinya selalu hadir serta berbuat amal hanya karena taat kepada Allah. Berbeda dengan orang bodoh, yang berbuat salah dan kufur, mengaku shalat daim, sombong dan riya atau musyrik, dan jadilah kemudian si fasik. (jss/bersambung)