Beranda Berita utama Nasehat Burung Surga (27) : Kitab Qur’an Itu Pemberi Petunjuk

    Nasehat Burung Surga (27) : Kitab Qur’an Itu Pemberi Petunjuk

    179
    0
    catholic.convert.com

    Bayan meneruskan menjelaskan. “Maksud orang bisu menjadi hakim, itu hanya perumpamaan Kitab Qur’an yang tak punya mulut tapi bisa memberi petunjuk yang benar dan yang salah. Adapun orang buta menjadi penunjuk jalan, itu seperti badan dengan hati. Dibanding mata, maka tentu lebih mengikuti hatinya.

    Sementara makna orang kerdil meraih bintang (pungguk merindukan bulan), itu adalah nafas manusia yang tidak pernah melihat di saat berpisah dan bertemunya dengan nyawa yang selalu berada di dalam badan.

    Ketika sedang tidur atau ketika manusia menemui kematiannya, nyawa itu pergi kemana, kita ini tidak tahu. Kita juga tidak tahu pula dimana letak jagad kecil dan jagad besar, karena hal itu seperti peluru dengan senjata.

    Adapun maksud bumi terkubur gunung, itu bagaikan air dan tawarnya. Seperti bersatunya manusia dengan Tuhan. Segala gerak manusia dan makhluk itu adalah kehendak Tuhan. Itu bukan kekuasaan tubuh manusia. Karena sejatinya manusia itu hampa tanpa kehendak, tempatnya lupa dan salah. Sedang makna api dibakar ialah gambaran panasnya neraka akibat manusia mengumbar hawa nafsunya.

    Makna kata hikmah kesembilan, air direndam dalam air ialah perumpamaan bagi nabi, wali dan ulama, yang diberi kekuatan mukzizat bagi nabi dan karomah bagi wali seperti hubungan antara zat dan sifatnya, kodrat dan irodat. Arti hikmah kesepuluh, manusia dipanggang, itu adalah perumpamaan bagi orang kafir yang dipanggang api neraka yang panasnya lebih panas dibanding panas matahari.”

    Bayan selanjutnya berkata. “Adapun maksud lampu menyala tanpa sumbu ialah perumpamaan fadhilah (keutamaan) dari Allah yang lebih terang dibanding matahari dan selalu bersinar walaupun di malam hari. Sementara maksud dari tergantung tanpa kaitan ialah sifat mua’alaq, yaitu kodrat iradat Allah terhadap semua makhluk-Nya yang tanpa memiliki kemampuan kecuali hanya ikhtiar.

    Pohon beringin melingkari akar maksudnya adalah, bahwa geraknya badan adalah oleh hati. Badan lahir itu digambarkan bagaikan pohon beringin dan akarnya adalah hati atau batin. Jika hati dan batin manusia itu kuat, maka manusia akan menjadi orang budiman.”

    Selesai menjelaskan sasmita berjumlah tigabelas, Sang Bayan meminta penegasan burung Menco benar tidaknya jawabannya. Tapi dasar Menco. Ia tak menjawab, tapi malah kembali mengajukan pertanyaan.

    “Hai Bayan, di antara ‘ada’ lebih dari ‘ada’, hampa yang lebih hampa, tidur sekali jaga selamanya, tidur setiap malam dan makan setiap hari, sekali makan kenyang selama hidup, dan makan sore lapar setiap hari, mana yang kau pilih ?”

    Burung Bayan merendah. Ia menyatakan tidak punya ilmu yang cukup untuk menjawab semua pilihan itu walau semuanya telah ia jalani dalam hidup ini. Sebab, katanya, orang hidup di dunia ini tidak bisa meninggalkan syariat Allah dan perintah rasul-Nya sebagai konsekuensi sifat mukallafnya. Tiada pilihan lain kecuali tawakal kepada Allah.

    “Untuk itu, menurut pendapatku, yang dimaksud lebih dari hampa ialah orang bodoh yang menerima kebodohannya, sedang maksud sekali tidur terjaga selamanya ialah orang yang banyak zikir dan tobat.

    Orang yang tidur setiap hari maksudnya ialah orang yang malas beribadah akibat terlalu bernafsu mencari harta kekayaan. Maksud dari sekali makan lapar seumur hidup ialah orang yang mempunyai ilmu yang kenyang tanpa makan.
    Makna orang makan setiap hari tanpa lapar terus ialah perumpamaan bagi orang yang tidak peduli kehidupan akhirat, tetapi terlalu cinta harta meninggalkan kewajiban salat karena sibuk ngurusi dunia.”

    Setelah mendengar penjelasan dan jawaban si Bayan yang tegas dan terang itu burung Menco terdiam. Ia kemudian mengajak Bayan beristirahat. Burung Menco itu bagaikan santri gunung yang tidak tahu apa sebenarnya yang sedang dicari. (jss/bersambung)