Beranda Berita utama Pengalaman Pertama Salat Tawarih di Roma, Italia

    Pengalaman Pertama Salat Tawarih di Roma, Italia

    48
    0

    Alhamdulillah, kami bisa melaksanakan shalat tarawih pertama di Kota Roma, Italia. Seperti halnya di Indonesia, umat Islam di Eropa juga mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh. Puasa di Eropa kali ini bertepatan pada penghujung musim semi menjelang summer, sehingga udara cukup nyaman tidak panas dan tidak terlalu dingin. Sekitar 16 sampai 21 derajat celcius meskipun dua hari terakhir udara turun hingga 11 derajat celcius.

    Bagi saya pribadi, puasa Ramadhan tahun ini istimewa karena setidaknya ada tiga hal baru yang kali pertama saya rasakan: 1) kali pertama menjalani puasa di Eropa, 2) kali pertama berpuasa hari pertama tidak dengan keluarga terdekat (istri dan anak-anak), dan 3) kali pertama puasa tanpa ada ibunda tercinta. Lebih istimewa lagi karena puasa pertama kami jalani di Kota Roma, kota pusat agama Katholik sedunia.

    Tantangan menjalani puasa di Roma bukan semata-mata karena durasi puasa yang hampir 18 jam, lebih dari itu mencari tempat sahur dan buka puasa juga menjadi seni tersendiri. Tentu saja di Roma tidak ada rumah makan yang tutup untuk menghormati bulan suci Ramadhan, semua restaurant buka seperti biasa. Dan di antara semua rumah makan itu, tidak mudah mencari yang halalan thoyiban.

    Tapi itu pikiran kita, padahal kuasa Tuhan di atas segalanya. Di mana pun, di Jakarta ataupun Roma, semua adalah buminya Allah. Karena ibadah puasa adalah untuk Allah, di manapun saat kita berpuasa, InsyaAllah akan dimudahkan segalanya. Di Kota Roma berdiri Tahta Suci Vatikan (The Holy See) dengan pemimpin tertinggi seorang Paus. Dan di kota ini pula berdiri sebuah masjid terbesar di Eropa, Moschea di Roma.

    Meski bukan satu-satunya masjid yang ada di Roma, namun rasanya sayang jika saya melewatkan ziarah ke masjid yang diresmikan pada 21 Juni 1995 tersebut. Alhamdulillah, setelah siang hari berkunjung dan ditemui langsung Imam Masjid Jami’ Roma Prof. Shalah Ramadhan (Guru Besar Ilmu Keislaman Universitas Al Azhar Mesir), malam harinya kami bisa shalat Isya’ dan tarawih pertama di Moschea di Roma. Tentu saja tidak banyak jamaah shalat tarawih tadi malam, hanya sekitar 250 orang.

    Wajar, hanya ada 150 ribu pemeluk agama Islam dari total 4,5 juta penduduk Roma. Juga lokasi masjid berada di pinggiran kota. “Namun besok akan bertambah dan mendekati malam terakhir Ramadhan jamaah tarawih semakin banyak, bisa lebih seribu orang,” kata Prof Shalah Ramadhan. Saya menikmati shalat tarawih dengan khusyu’. Apalagi Imam shalatnya sangat tumaninah dan bacaan Al Fatihah dan surah lainnya sangat merdu.

    Delapan rakaat shalat tarawih diisi dengan lantunan surah Al Baqarah. Saat shalat witir tiga rakaat dengan dua salam, surah yang dibacakan adalah Al A’la, Al Zalzalah, dan Al Ikhlas. Cukup panjang namun membuat hati semakin khusyu’, berasa seperti tidak sedang di Roma. Tidak ada yang berbeda dengan shalat tarawih di Indonesia kecuali khotbah tarawih dibacakan usai tarawih rakaat keempat. Kemudian dilanjutkan empat rakaat lagi dan witir tiga rakaat.

    Sementara itu di sisi lain Kota Roma tepatnya di Takhta Suci Vatikan, siang harinya pada hari yang sama, Paus Fransiskus menggelar audiensi umum di depan publik. Pada audiensi umum ini, Paus mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa bagi umat Islam di seluruh dunia dan mendoakan agar kedamaian selalu hadir pada diri setiap manusia. Saya menikmati dan merasakan kedamaian selama hampir sepekan ini berada di Roma.

    Tidak mudah pasti hidup menjadi minoritas seperti halnya menjadi seorang Muslim di tengah mayoritas masyarakat non Muslim. Namun tidak mudah bukan berarti tidak bisa, justru dengan menjadi minoritas kita lebih mudah bersikap rendah hati, mawas diri, dan tepo seliro. Buktinya ada beberapa WNI Muslim yang telah hidup lebih dari 20 tahun di Roma dan mereka baik-baik saja. Tetap Islam, tetap beriman, dan hidup dalam kedamaian.

    Islam adalah agama yang cinta damai, tidak mengajarkan kekerasan, universal, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tulisan ini sekadar renungan sebagai ungkapan keprihatinan dengan apa yang baru saja terjadi di tanah air tercinta: ternyata masih ada manusia yang mengatasnamakan agama tega membunuh manusia lainnya. Ini adalah terorisme dan bukan jihad fi sabililah. Dari Kota Roma, satu-satunya kota di dunia yang namanya menjadi nama surah di dalam Al Quran: Ar Rum (Roma/ Bizantium), kami mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Marhaban ya Ramadhan.