Beranda Berita utama Pernyataan Tengku Zul Soal Hasrat Seksual Memalukan

    Pernyataan Tengku Zul Soal Hasrat Seksual Memalukan

    74
    0

    Pernyataan Tengku Zulkarnain tentang hasrat seksual dalam dialog di televisi dikecam banyak pihak dan dinilai memalukan. Wakil Sekjen MUI dan anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga ini menanggapi kasus pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga.

    “Kalau sudah mau (seks), ya mesti, si istrinya mah diam aja, tidur aja, nggak sakit kok,” ujar Tengku Zul. Karena itu, dia menolak pengesahan Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

    Kata dia ketika berhubungan seks, suami dan istri tidak memerlukan mood. Bahkan, dalam pernyataan itu, Tengku Zulkarnain membawa alasan agama. “Masa seks itu harus mood suami istri. Tak ada dalam agama itu, hubungan suami istri itu harus mood,” ujarnya.

    Pernyataan ini dikecam banyak pihak karena dinilai merendahkan perempuan. Salah satu kritik datang dari Ienas Tsuroiya, putri pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus.

    Lewat akun twitter @tsuroiya, Ienas Tsuroiya menyebut istigfar. Dia mengaku syok mendengar pernyataan Tengku Zulkarnain. Bagi Zul, perempuan hanya dianggap properti.

    “Astaghfirullah. Beneran shock saya melihat klip ini. ‘Ustadz’ TZ ini bawa-bawa nama MUI, tapi sedemikian parah pandangannya terhadap perempuan. Istri dianggap sebagai ‘properti’, seakan benda mati. Lebih parah lagi, lawan diskusi sudah jelas berjilbab, masih ditanya: “Anda muslim?” cuit Ienas Tsuroiya.

    “Lebih dari 100 respon atas twit ini. Sebagian besar mempunyai keresahan yang sama seperti saya.

    Ajaran Islam yang saya pelajari selama ini, sangat memuliakan perempuan. Kisah Rasul SAW yang saya baca, sangat menghargai istri,” kicau Ienas Tsuroiya.

    Ienas Tsuroiya menyebut hadits yang berkaitan dengan sikap isteri dalam hubungan seksual sering disalahgunakan sebagai pembenaran dari kesewenang-wenangan suami.

    “Memang hadits itu yang sering dipakai sebagai pembenaran ‘kesewenang-sewenangan’ suami. Tapi perlu juga diketahui, hadits yang berisi tuntunan berinteraksi dalam perkawinan tidak hanya hadits yang itu. Yang pernah mondok di pesantren pasti pernah dengar kitab ‘Uquddulujain’,” kicau Ienas Tsuroiya.