Beranda Berita utama Pertumbuhan Restoran Myanmar Dorong Permintaan Minyak Sawit

    Pertumbuhan Restoran Myanmar Dorong Permintaan Minyak Sawit

    25
    0

    Pertumbuhan restoran cepat saji di Myanmar bisa menjadi meningkatkan permintaan terhadap minyak sawit. Beberapa restoran cepat saji merek internasional sedang melakukan ekspansi ke negara yang baru terbuka dari isolasi ekonomi ini. Restoran Pizza Hut dan Burger King adalah restoran yang terus bertambah jumlahnya.

    Berdasarkan data Yoma Strategic Holdings Ltd., saat ini sudah ada 23 restoran dan ditingkatkan menjadi 32 restoran pada Maret 2019. “Pembukaan lebih banyak toko makanan cepat saji pasti meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit,” kata Zakaria Arshad selaku CEO Felda Global Ventures Holding Bhd. (FGV) seperti dikutip dari Bloomberg, akhir pekan lalu.

    Selama ini, warga Myanmar sering menggunakan minyak sayur untuk menggoreng makanan. Permintaan minyak sawit sejak 2011 dibatasi sekitar 200-300 ribu ton per tahun. Tapi, dengan adanya pertumbuhan restoran cepat saji, permintaan minyak sawit akan meningkat. Tradisi makan makanan yang digoreng menjadi celah peningkatan permintaan terhadap minyak sawit.

    Dengan peningkatan daya beli dan perubahan gaya hidup, transisi Myanmar menjadi condong ke pasar berbasis ekonomi dan reformasi negaranya menjadi lebih terbuka melebarkan kesempatan bagi pengekspor minyak kelapa sawit. FGV sebagai perusahaan minyak sawit yang cukup besar akan memperluas volume penjualan minyak kelapa sawitnya.

    Menurut analis Toe Aung Myint, Myanmar biasanya membeli minyak kelapa sawit dari Malaysia dan Indonesia, dan hanya membeli minyak berkualitas tinggi. Sementara itu, impor minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari juga tetap diizinkan. Hingga saat ini, pembelian minyak sawit tertinggi di Myanmar terjadi tahun lalu di mana mencapai 820 ribu ton yang direalisasikan pada September tahun lalu.