Beranda Berita utama Petani Sawit Perlu Dilibatkan dalam Skema ISPO

    Petani Sawit Perlu Dilibatkan dalam Skema ISPO

    93
    0

    Kepala Sekretariat Komisi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Azis Hidayat mengatakan perwakilan negara-negara Uni Eropa yang berkunjung ke perkebunan kelapa sawit PTPN V di Riau mendorong petani sawit lebih banyak dilibatkan dalam skema ISPO. “Mereka sadar perkebunan sawit bagian penting dari ekonomi kerakyatan Indonesia,” kata Aziz di Jakarta akhir pekan lalu.

    Perwakilan Uni Eropa ini berasal dari Belgia, Spanyol, Filandia, Irlandia, Swedia, Hongaria, Belanda dan Inggeris serta Perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) berkunjung ke perkebunan sawit anggota ISPO di Riau pada 8-9 Mei 2018.

    Dalam kunjungan ini, mereka aktif berdialog dengan para pemangku kepentingan sawit mulai dari pemerintah, dunia usaha dan petani. Dalam dialog dengan petani, UE mulai memahami bahwa ISPO merupakan bagian penting dari komitmen Indonesia.

    Uni Eropa memuji pengetahuan petani sawit anggota ISPO tentang hal teknis pengelolaan sawit yang produktif dan berkelanjutan. Karena itu, petani didorong dilibatkan lebih banyak dari skema ISPO. Dia yakin kunjungan ini memiliki dampak positif terhadap citra sawit di negara-negara Uni Eropa.

    Mereka juga semakin paham bahwa ISPO tidak hanya mengadopsi prinsip internasional, tapi juga memiliki standar di atas rata-rata kriteria yang disyarakatkan lembaga sertifikasi internasional. “Ada kriteria tambahan seperti tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

    Aziz mengatakan sertifikasi ISPO sudah sesuai standar internasional dan penilaian kesesuaian Komite Akreditasi Nasional (KAN). Saat ini, ada 15 lembaga sertifikasi ISPO dan tujuh di antaranya berasal dari Jerman, Inggris, Italia, Perancis, Swiss, dan Austalia, yang diperkuat 1.559 auditor ISPO. Sertifikasi ISPO didukung 8 konsultan dan 3 lembaga pelatihan ISPO untuk memastikan sertifikasi bersifat independen.