Beranda Berita utama Pola Pelana Kuda pada Virus Demam Berdarah

    Pola Pelana Kuda pada Virus Demam Berdarah

    81
    0

    Apakah penyakit demam berdarah itu berbahaya? Menurut saya, iya. Namun bisa dikelola, asalkan memenuhi setidaknya tiga hal: tepat waktu, tepat diagnosa, dan tepat tata laksana. Berikut catatan saya terkait virus DB tersebut berdasarkan pengalaman 7 hari kemarin menjaga anak gadis yang terkena DB saat sedang berlibur di Kota Jember Jawa Timur.

    Catatan ini saya rujuk dari berbagai sumber, termasuk berdiskusi dengan dokter spesialis penyakit dalam, dokter jaga, dan beberapa perawat senior di RS tempat anak saya dirawat. Juga hasil diskusi dengan seorang teman yang mengelola sebuah rumah sakit milik pribadi. Semoga bermanfaat bagi teman-teman di tengah wabah DB di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Jakarta dan sekitarnya, akhir-akhir ini.

    Kesibukan menyiapkan sebuah kegiatan di Kota Bandung, Kamis (14/2) pekan lalu tiba-tiba terusik dengan sebuah pesan WA dari anak gadis yang lagi berlibur dengan ibunya di Kota Jember. Anak gadis mengabarkan dia sedang demam tinggi dengan suhu 39 derajat, kepala pusing, mual, dan rasa sakit di beberapa bagian badan. Tidak ada tindakan cek darah waktu itu karena pihak RS mendapatkan informasi bahwa panas baru terjadi satu hari.

    “Demamnya gak kayak biasanya Ma,” kata anak gadis mengeluh kepada si ibu. Mereka berdua kemudian ke UGD sebuah RS di Kota Jember. Diberikan injeksi obat penurun panas dan tak lama panas pun reda. Itu sore hari menjelang maghrib, sedang demam mulai dirasakan sejak siang.

    Malam sekira jam 23.30, anak gadis kembali demam tinggi dan pusing. Suhu 40 derajat. Ibu ditemani si kakak mengantarkan kembali ke UGD RS yang berbeda. Setelah mendapatkan penjelasan kronologis demam, dokter jaga di UGD memutuskan melakukan cek darah.

    “Kita lihat mungkin DB,” kata dokter UGD. Dari hasil lab malam itu, tingkat trombosit masih dalam batas normal 233 ribu (normal 150.000 – 500.000). Namun hasil lab NS1: Positive. “Anak Ibu dipastikan DB dan harus dirawat malam ini juga,” kata dokter.

    Sekira subuh, teman-teman kantor yang juga sedang dinas di Bandung mengetuk pintu kamar hotel saya. “Anak gadis Bapak diopname di Jember.” Terasa disambar petir rasanya apalagi setelah mendengar kabar kena demam berdarah. Karena sudah tidak ada lagi tiket kereta dan pesawat pagi ke Surabaya, saya pun bersama seorang driver jalan darat dari Bandung ke Jember. Masuk tol Purbaleunyi jam 7 pagi, tiba di Surabaya jam 3 sore (8 jam). Perjalanan Surabaya-Jember sendiri memakan waktu 4 jam.

    Sabtu (16/2) pagi di RS, “Selamat pagi Pak, saya dokter Haji Yudho yang merawat anak Bapak,” katanya memperkenalkan diri di kamar perawatan. “Apakah anak saya kondisinya aman Dok?” tanya saya.

    “Santai saja, sabar. Yang penting tidak terlambat dirawat, karena DB tidak ada obatnya. Yang penting selalu dipantau kondisinya, dijaga cairan di dalam tubuh melalui infus, dan saat masa kritis tidak ada perdarahan,” kata dr Yudho.

    Dokter yang juga akupunturis itu pun kemudian menjelaskan pola tujuh hari virus demam berdarah. “Polanya seperti pelana kuda. Hari pertama dan kedua fase demam, hari ke 3-5 fase kritis, dan hari ke 6-7 fase penyembuhan,” katanya.

    Pada saat fase kritis itulah banyak masyarakat yang salah duga. Dikira demam mereda dan sudah sehat. Padahal saat itulah masa-masa berbahaya di mana kadar trombosit akan turun tajam dan bila tidak dirawat bisa terjadi perdarahan seperti gusi berdarah, mimisan, dan muntah darah. Inilah yang seringkali terjadi saat kita membaca berita atau mendengar orang meninggal dunia karena demam berdarah.

    “Jika sudah melewati masa kritis, biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Yang ditandai naiknya trombosit dalam darah,” kata dr Yudho. Penjelasan Dr Yudho cukup melegakan. Meski selalu khawatir karena setiap pagi saat cek darah jumlah trombosit konsisten turun: 233, 185, 165, 145, 135, 116.

    “Anaknya juga harus kuat Pak, banyak makan dan minum ditambah dengan sumber nutrisi lain. Madu juga bagus,” saran seorang dokter jaga. Namun merawat pasien ABG tidak mudah, penuh pemberontakan. Tapi kami tetap berusaha agar anak gadis mau minum sari kurma dan madu. Jus jambu kami hindari karena saat dirawat awal, selain DB juga typus nya positif.

    Meski kondisi anak gadis relatif selalu stabil saat dirawat dan Alhamdulillah tidak ada perdarahan, namun pada Selasa (hari ke-5 sejak dirawat), kondisinya agak turun. Sejak pagi rewel, makan dan minum gak ada yang masuk.

    Kemudian muntah dan suhu badan agak panas. Kondisi ini terjadi dari pagi hingga malam menjelang tidur. Ibunya panik, namun saya berusaha memegang keyakinan pada pola “pelana kuda” tadi. Meski kami berdua malam itu tak kuasa lagi menahan tangis.

    “Mungkinkah ini puncak fase kritis dalam demam berdarah?” batin saya sambil menghitung sudah berapa hari anak saya demam karena virus nyamuk aides aigepti ini. Meski percaya pada teori, tetap saja orang tua khawatir. Entah sudah berapa kali saya tanya kepada perawat dan dokter jaga, apakah kondisi anak saya aman? Apalagi setelah membaca berita ada saja korban yang meninggal karena demam berdarah.

    Dan memang teori itu benar. “Itu (pola pelana kuda) sudah sunatullah,” kata Dr Yudho. Sehari setelah melewati situasi terberat sejak dirawat, pada Rabu (20/2) kondisi anak gadis tampak segar. Tidak ada lagi keluhan. Namun dokter tetap akan “menahan” pasien sampai angka trombositnya naik. “Itu demi patient safety. Tunggu saja sampai trombositnya naik. Naik berapapun boleh pulang, karena kalau sudah naik tidak akan turun lagi. Artinya virusnya sudah mati.”

    Dan tepat hari ke-7 sejak demam pertama atau hari ke-6 sejak dirawat, hasil cek darah menunjukkan trombosit anak gadis mulai merambat naik. Alhamdulillah ya Allah. Semoga cerita singkat di atas bermanfaat buat teman-teman mengantisipasi wabah demam berdarah saat ini. Wassalam. I Tofan Mahdi