Beranda Berita utama Puisi Fadli Zon Sangat Melukai Warga NU

    Puisi Fadli Zon Sangat Melukai Warga NU

    115
    0

    Puisi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon berjudul Doa Yang Ditukar dinilai telah melukai warga Nahdlatul Ulama (NU) karena menyinggun ulama sepuh NU, KH Maimoen Zubair. Interlektual Muda NU, Zuhairi Misrawi melalui akun twitter @zuhairimisrawi menyebutkan “Puisi Fadli Zon soal doa Kiai Maimoen Zubair sangat melukai kami warga NU”.

    Sedangkan pengurus Banser, Nuruzzaman melalui akun twitternya @noeruzzaman juga memberikan peringatan keras kepada Fadli Zon. Mantan politikus Gerindra ini mengatakan “Tugas Banser adalah menjaga para ulama NU, ketika ada ulama yg dihina oleh politisi -wakil ketua umum Gerindra- maka kita Ansor Banser wajib membela marwah ulama NU dengan cara apapun. Yg setuju RT, yg tdk setuju like”.

    Warga NU yang lain juga tidak kalah keras bersikap. Putri Gus Dur, Allisa Wahid juga bersuara lantang. Melalui akun twitter-nya, Allisa mengatakan, “Saya tidak pernah mengomentari pak @fadlizon sebelum ini. Namun kali ini kalau “kau” dalam puisinya adalah Mbah Moen, sudah keterlaluan menyindir Mbah Moen sebagai membegal doa.”

    Fadli Zon bukan hanya sekali dua kali menyinggung warga NU. Sebelumnya, dia juga dianggap menghina KH Yahya Staquf tentang kunjungan ke Israel. Begitu juga ketika Sandiaga Uno melangkahi makam pendiri NU di Jombang yang diprotes warga NU, Fadi Zon dengan santai bilang apa dampaknya bagi bangsa.

    Sedangkan pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Hasanah Subang, Jawa Barat, KH Muhammad Abdul Mu’min mengatakan Fadli Zon bertindak kurang ajar terhadap kiai sepuh NU.

    “Saya sudah baca puisi Fadli itu, dan isinya merendahkan ulama dengan mengatakan doanya ditukar. Para politisi jangan kurang ajar pada ulama. Pesantren itu sudah berumur ratusan tahun sementara politisi baru lahir kemarin sore,” kata Abdul Mu’min.

    Menanggapi kontroversi ini, Fadli Zon melalui akun twitter-nya dengan tenang menjawab yang dimaksud kau dalam puisi itu adalah penguasa dan makelar doa. Dia tidak mau menanggapi lebih jauh puisi yang dibuatnya.