Beranda Berita Pilihan Rabi’ah, Wanita Dari Basrah (5) : Sinar Sakinah di Kepala Rabi’ah

Rabi’ah, Wanita Dari Basrah (5) : Sinar Sakinah di Kepala Rabi’ah

1673
0

Benarlah janji Allah itu. Ia akan mengabulkan doa orang yang teraniaya. Begitu juga dengan Rabi’ah. Doanya dikabulkan dan ia dapat pulang dengan tenang. Dalam kesehariannya lidah Rabi’ah selalu dibasahi dengan zikrillah. Sehingga kehidupannya selalu diliputi cahaya keimanan.

Setelah suara itu berlalu, Rabi’ah kembali ke rumah tuannya. Setiap hari ia berpuasa sambil bekerja. Karena seluruh ibadah dan kegiatannya ia tujukan hanya pada Allah semata, ia pun mendapat kekuatan untuk selalu berdiri tegak dan tabah.

Suatu malam majikannya terbangun dari tidurnya dan menengok keluar jendela. Ia melihat Rabi’ah sedang menundukkan kepalanya untuk berdoa. Dalam doanya Rabi’ah memohon.

“Ya Allah, engkau Maha Mengetahui. Apa yang ada di hatiku hanyalah untuk mengabdi padaMu. Cahaya yang ada di mataku hanya untuk menjalankan perintahmu semata. Jika aku mempunyai lebih banyak kesempatan, maka tak satu jam pun terlewatkan untuk selalu mengabdi pada-Mu. Namun Engkau telah menempatkanku pada kuasa seorang manusia hingga aku tak berdaya.“

Tiba-tiba majikan Rabi’ah itu melihat cahaya seperti lampu di atas kepala Rabi’ah. Cahayanya sangat terang melebihi lampu yang ada. Seluruh rumah diterangi oleh cahaya yang tanpa penyanggah ini. Cahaya atau sakinah (berasal dari bahasa Hebrew Shekina yang berarti awan kebesaran yang menandakan kehadiran Allah) itu menandakan seorang suci, dan banyak disebut dalam biografi para sufi.

Melihat cahaya kebesaran itu, majikan Rabi’ah sangat ketakutan. Ia pun duduk termenung hingga subuh. Ketika subuh tiba, ia memanggil Rabi’ah dan bicara padanya dengan sangat baik dan sopan.

Akhirnya Rabi’ah ia bebaskan. Rabi’ah pun meminta izin untuk meninggalkan tempat itu dan melangkah menuju padang pasir. Setelah melalui padang pasir yang ganas, Rabi’ah menemukan tempat untuk menetap. Disanalah ia melakukan ibadah dan mengabdikan diri sepenuhnya pada Allah. Konon, ketika ia meninggalkan rumah majikannya, Rabi’ah dituntun bunyi suling yang memandu ke tempat tujuan. (bersambung)