Beranda Berita utama SBY Kritisi Model Kampanye Akbar Prabowo di GBK

    SBY Kritisi Model Kampanye Akbar Prabowo di GBK

    77
    0

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengkritik mode kampanye calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta pada 7 April 2019. Kritik ini tidak disampaikan langsung, tapi melalui tiga pengurus PD yakni Ketua Dewan Kehormatan PD Amir Syamsudin, Wakil Ketua Umum PD Syarief Hasan, dan Sekjen PD Hinca Panjaitan.

    Surat bertanggal 6 April itu ditulis dari National University Hospital, Singapura yang kemudian salinannya bocor ke sejumlah media. Dalam surat itu, SBY mengaku mendapat informasi tampilan kampanye akbar Prabowopada Sabtu sore.

    “Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif, melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya dengar itu benar,” tulis SBY.

    SBY pun meminta kepada Amir Syamsudin, Syarief Hasan, dan Hinca Pandjaitan agar memberikan saran kepada Prabowo. SBY meminta agar memastikan beberapa hal dalam kampanye Prabowo. Pertama, SBY meminta agar kampanye tetap mengusung inklusifitas, kebhinnekaan, kemajemukan, dan persatuan, serta kesatuan “Indonesia untuk Semua”.

    “Cegah demonstrasi apalagi show of force identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem,” kata SBY.

    SBY mengaku tak suka rakyat Indonesia dibelah sebagai pro-Pancasila dan pro-kilafah. Jika polarisasi semacam ini dibangun dalam kampanye, dia khawatir bangsa Indonesia benar-benar terbelah ke dalam dua kubu yang berhadapan dan bermusuhan selamanya. Mengungkit kampanye pemilihan presiden yang dilakukan Demokrat pada 2004, 2009, dan 2014, SBY mengatakan masih banyak cara berkampanye lainnya.

    “Saya pikir masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan mendidik,” ucapnya. “Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu disatu sisi berkah, tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti.”

    SBY lantas menyinggung bagaimana selama ini Prabowo diidentikkan dengan khilafah, sedangkan calon presiden inkumben Joko Widodo dituding komunis. SBY mengatakan narasi semacam ini tidak tepat, gegabah, dan menyesatkan.

    “Sejak awal harusnya narasi seperti ini tidak dipilih. Tetapi sudah terlambat. Kalau mau, masih ada waktu untuk menghentikannya,” ujarnya.

    Di akhir suratnya, SBY mengatakan tulisan itu dibuat saat putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sedang terbang dari Singapura menuju Jakarta. Kendati sudah menyerahkan urusan kampanye kepada AHY yang menjabat sebagai Ketua Komando Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat, SBY tetap merasa perlu bersuara perihal ini.