Beranda Berita Pilihan Seks Gendruwo (2) : Memberi Sesaji di Pura Tua

    Seks Gendruwo (2) : Memberi Sesaji di Pura Tua

    596
    0
    merdeka.com

    Kendati miskin, keluarga Gimo dan Wakijem ini nampak sangat harmonis. Mereka hidup rukun. Tak pernah terdengar cekcok. Hanya, yang membuat keluarga ini kurang sempurna, sampai dua tahun usia pernikahannya, mereka tak kunjung mendapat momongan.

    Anak yang diidamkan belum ada tanda-tanda bakal datang. Itu kadang yang membuat Wakijem resah dan gelisah.

    Sebagai wanita yang hidup di lingkungan yang angker, tanpa sepengetahuan suaminya, Wakijem acap datang ke sebuah pura tua yang terletak di pintu masuk Alas Purwo. Pura itu bangunannya mungil dan kusam.

    Di tengahnya terdapat halaman luas yang tak ditumbuhi tanaman, dan berfungsi sebagai altar. Sedang ruang yang lain penuh pohon besar, sampai-sampai sinar matahari pun tak mampu menembus pura ini.

    Wakijem sering datang ke pura ini. Ia membawa sesajen, dan meminta petunjuk agar secepatnya diberi momongan. Doa itu terus dipanjatkan. Malah dalam pengakuannya, ketika ia sedang berdoa, wanita ini sering melihat pohon-pohon besar yang memayungi daerah ini bergemeresak. Bergoyang keras seperti hendak tumbang.

    Tanda gaib itu yang memberi keyakinan Wakijem, bahwa permohonannya untuk mendapatkan keturunan bakal menjadi kenyataan. Dan kepercayaan itu bisa dimaklumi. Sebab berdasar peta mistik Jawa, Alas Purwo merupakan hutan yang paling angker di Tanah Jawa. Di daerah inilah pusat kerajaan makhluk halus.
    Malah dalam babad Tanah Jawi disebut-sebut, bahwa para penasehat raja Brawijaya V yang berasal dari dunia gaib yang tak mau masuk Islam, semuanya berkumpul di Alas Purwo ini. Itu, ketika raja Majapahit berpindah agama, memeluk agama Islam.

    Saking tingginya kepercayaan soal itu, sampai-sampai Wakijem yang orang kebanyakan itu juga paham soal bakal kocar-kacirnya Indonesia di 500 tahun setelah kehancuran Majapahit.

    Sebab, Sabdo Palon, abdi terkasih raja Brawijaya V dari dunia mistik pernah mengungkapkan dendam kesumatnya itu terhadap sikap oportunis Sang Raja. Ia dendam, dan sesumbar akan mengubah performa Nusantara di zaman mendatang. (bersambung)