Beranda Berita utama Serapan Program Replanting Sawit Belum Maksimal

    Serapan Program Replanting Sawit Belum Maksimal

    23
    0

    Sejauh ini realisasi peremajaan lahan atau replanting kebun kelapa sawit masih sangat rendah. Dari 185 ribu hektar target replanting yang dipasang Kementerian Pertanian, serapannya baru mencapai 33.671 hektar, atau setara 18,2 persen.

    Direktur Jenderal Perkebunan Bambang mengatakan salah satu faktor penyebab minimnya realisasi replanting karena sebagian petani belum ingin meremajakan lahannya. Padahal, peremajaan meningkatkan produktivitas lahan sawit, menjamin benih dan menguntungkan petani dalam jangka panjang.

    “Sekarang petugas-petugas di kabupaten dan provinsi sedang memberi sosialisasi karena masyarakat masih sayang kebun yang masih ada hasilnya untuk direplanting,” kata Bambang di Jakarta pada 19 Desember 2018.

    Menghadapi kondisi ini, pemerintah tidak bisa memaksa petani untuk meremajakan lahannya. Pemerintah terus berupaya memberi penyuluhan kepada petani sawit yang memiliki lahan sendiri dan tak bermasalah dari sudut pandang hukum.

    “Untuk petani yang mau program replanting, rekomendasi teknis sudah akan kami terbitkan,” ujarnya lagi.

    Saat ini, pihaknya menyiapkan rekomendasi teknis untuk 28.676 ha lagi dalam 15 hari ke depan. Artinya, total rekomtek peremajaan lahan kelapa sawit pada awal Januari akan menjadi 63.347 ha atau sekitar 34 persen dari target.

    Bambang mengatakan pihaknya sedang membantu para petani untuk melengkapi persyaratan administrasi. Ia membantah realisasi peremajaan lahan sawit yang lambat terjadi karena persyaratan memperoleh rekomtek yang dipersulit.

    Sebagai catatan, rekomtek menjadi persyaratan untuk bisa mencairkan bantuan peremajaan sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) sebesar Rp25 juta per ha.

    Tahun depan, Bambang berharap upaya sosialisasi pemerintah akan membuahkan hasil. Karenanya, ia menargetkan bisa menerbitkan rekomtek untuk peremajaan lahan 150 ribu ha.