Beranda Berita utama Sosok di Balik Bocornya Data 50 Juta Pengguna Facebook

    Sosok di Balik Bocornya Data 50 Juta Pengguna Facebook

    52
    0

    Konsultan politik dan analisa data, Cambridge Analytica sedang naik daun dalam beberpa hari ini. Penyebabnya bukan karena prestasinya, tapi gara-gara skandal kebocoran data sekitar 50 juta pengguna Facebook. Data itu dikumpulkan melalui aplikasi Facebook yang dikembangkan akademisi Cambridge University, Aleksandr Kogan.

    Kasus pembobolan data pengguna media sosial paling poluler ini diungkap pertama kali oleh mantan pegawai Cambridge Analytica, Christopher Wylie. Dia mengatakan data yang diambil Kogan diberikan dan dimanfaatkan Cambridge Analytica untuk mempengaruhi hasil Pilpres AS tahun 2016 dalam rangka memenangkan kandidat Partai Republik, Donald Trump.

    Meski sudah menjadi tertuduh, Cambridge Analytica terus membantah dan menyatakan sudah men-suspend Alexander Nix, CEO Cambridge Analytica yang dianggap bertanggung jawab dalam skandal ini. “Saya menjadi kambing hitam oleh tuduhan Facebook maupun Cambridge Analytica. Sejujurnya saya melakukan sesuatu yang normal,” kata Kogan seperti dikutp dari Guardian.

    Dia juga membantah tuduhan Cambridge Analytica kalau dia yang mendekati mereka. Yang terjadi sebaliknya adalah sebaliknya, aplikasi itu adalah ide mereka dan membayar USD 800 ribu agar orang-orang mau menggunakannya.

    Kogan melakukannya karena diyakinkan bahwa skema semacam itu legal. Walaupun dia juga mengaku alpa tidak mempertimbangka etika saat mengumpulkan data para user Facebook.

    Posisi Kogan memang runyam. Cambridge Analytica mengklaim tidak bersalah. Sedangkan Facebook bersikeras kalau Kogan melanggar peraturan, karena memberikan data pada pihak ketiga untuk kepentingan komersial.

    Aplikasi Kogan tidak hanya mengumpulkan detail para pengguna Facebook di Amerika Serikat yang mengikuti tes di aplikasinya. Melainkan juga seluruh teman yang dimiliki para partisipan sehingga data yang diangkut berlipat ganda.

    Data itu kemudian dianalisis untuk memberikan iklan politik yang sesuai demi kemenangan Donald Trump. Cambridge Analytica menyatakan seluruh data yang didapat dari Kogan telah dihapus. Donald Trump yang tidak diunggulkan justru mampu mengalahkan Hillary Clinton yang lebih populer. Tuduhan kecurangan Trump sudah banyak dan kasus ini merupakan yang terbaru yang menyeret taipan properti ini.