Beranda Berita Pilihan Tanam Pohon Kawi di Areal Konservasi

    Tanam Pohon Kawi di Areal Konservasi

    1463
    0

    KAPUAS HULU – Puluhan siswa-siswi SD Eka Tjipta menanam ratusan pohon Kawi di kawasan areal konservasi milik anak perusahaan Perkebunan Sinarmas PT Kartika Prima Cipta (PT KPC) di Kecamatan Suhaid, Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (16/6),
    “Dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup kita lakukan penanaman pohon dengan tema One Child One Tree atau satu anak satu pohon, satu pohon untuk masa depan,” ujar Manager PT KPC, Surono di sela-sela penanaman pohon.
    Program satu pohon satu anak dari PT KPC melibatkan sejumlah pelajar SD dengan tujuan agar para siswa dapat mengenal pelestarian alam sejak dini yang nantinya akan menumbuhkan kepedulian pada lingkungan dan konservasi sumberdaya alam.
    “Penanaman salah satu jenis pohon yang dilindungi di lokasi ini, dengan melibatkan anak-anak kita, murid SD Eka Tjipta Foundation,” papar Surono.
    Selain itu, menurut Surono kegiatan penanaman 200 batang pohon di tahap kedua tersebut sekaligus untuk memberikan pendidikan (edukasi) kepada siswa bagaimana menjaga lingkungan dan mempertahankan areal konservasi di lokasi perkebunan PT KPC.
    “Tahap pertama telah kita lakukan penanaman sekitar 500 batang. Nanti akan kita tindak lanjuti di lokasi areal-areal konservasi perkebunan PT KPC lainnya dengan melakukan penanaman pohon-pohon endemik dan dilindungi,” terangnya.
    Surono juga mengungkapkan bahwa pihak perusahaan sangat berkomitmen untuk tetap menjaga area-area konservasi tersebut, agar tidak dibuka menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.
    “Kita sudah lakukan identifikasi areal dengan nilai konservasi tinggi (NKT) yang dilakukan oleh Tim dari IPB (Institut Pertanian Bogor), dan sekarang sedang ditindaklanjuti oleh konsultan Ekologika,” ungkapnya.
    Dari total areal lahan yang diizinkan seluas 19.200 hektare, telah tertanam kebun inti dan plasma seluruhnya sekitar 2.900 hektare.
    Disamping itu, terdapat areal NKT seluas 3.500 hektare yang terus menerus dilakukan pengelolaan dan pemantauan agar areal tersebut tetap terjaga sebagai areal konservasi.
    “Sekitar 2.000 hektare sudah diganti rugi (GR) dan masuk dalam wilayah areal konservasi,” paparnya.
    Pemantauan tersebut menurutnya juga melibatkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi, sehingga memberikan suatu edukasi agar areal konservasi tersebut dapat dijaga secara bersama-sama.
    “Tidak kita rusak, karena kalau kita tidak melibatkan masyarakat, apa yang telah dilakukan perusahaan akan kurang bermanfaat,” terangnya.(edo/tn)