Beranda Berita utama Tim Diplomasi Sawit Indonesia Berangkat ke Vatikan

    Tim Diplomasi Sawit Indonesia Berangkat ke Vatikan

    33
    0

    Tim Diplomasi Sawit Indonesia yang dipimpin Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan berangkat menuju Vatikan untuk mengadakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan energi terbarukan, biodiesel, hingga pengentasan kemiskinan dan promosi perdamaian melalui seminar bertajuk Eradicating Poverty through the Agriculture and Plantation Industry to Empower Peace and Humanity (Pengentasan Kemiskinan melalui Industri Pertanian dan Perkebunan untuk Memberdayakan Perdamaian dan Kemanusiaan).

    “Seminar ini tidak membahas agriculture tanpa diskriminasi. Mengapa Vatikan? Karena Vatikan melihat akar masalahnya kemiskinan, masalah humanity, masalah keadilan, itu saja,” kata Luhut seperti dikutip dari laman resmi Kemenko Kemaritiman. Dalam seminat ini, Luhut juga akan membahas masalah sawit Indonesia yang mendapatkan perlakuan diskriminatif dari Uni Eropa.

    Konferensi international ini rencanya diselenggarakan bersama antara Vatikan, Kedutaan Besar RI dan Kedutaan Besar Malaysia di Vatikan ini akan berlangsung di Pontifical Urban University, Roma. “Dalam konferensi ini delegasi akan memaparkan kondisi objektif sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia kepada dunia. Termasuk bagaimana peran sektor ini mengentaskan kemiskinan,” kat juru bicara GAPKI, Tofan Mahdi yang menyertai rombongan Tim Diplomasi Sawit Indonesia.

    Menurut Tofan Mahdi, selain dari pihak pemerintah, Tim Diplomasi Sawit ini juga terdiri dari perwakilan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) yaitu, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono, Wakil Ketua Umum GAPKI Togar Sitanggang, Ketua GAPKI Sumatera Selatan Harry Hartanto, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI Tofan Mahdi, dan Rino Afrino, Wakil Sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia).

    Menurut Tofan Mahdi, persoalan industri sawit Indonesia tidak akan selesai hanya dengan satu misi diplomatik. Namun, sinergi yang baik antara pemerintah, petani kelapa sawit, dan dunia usaha akan membuat segala tantangan bisa dihadapi dengan lebih mudah. Karena, tanpa sumbangan devisa ekspor minyak sawit, sangat mungkin nilai tukar rupiah saat ini jatuh pada titik yang lebih parah. “Jadi, industri sawit memang harus diperjuangkan,” katanya.