Beranda Berita Pilihan Tragedi Setan (12) : Adam Mengajari Para Malaikat

    Tragedi Setan (12) : Adam Mengajari Para Malaikat

    258
    0

    Kesombongan Iblis timbul dari keyakinannya yang merasa super, dibanding esensi ciptaan Adam. Api dilihatnya lebih baik dan lebih kuat daripada tanah liat manusia.

    Pada kenyataannya, api dapat menghancurkan tanah liat dalam panas nyala api yang menghanguskan. Dalam pikiran Iblis, dia makhluk superior (fadil). Dan tidak seharusnya ia bersujud di hadapan makhluk yang lemah (mafdul).
    Iblis telah memanfaatkan dirinya sebagai suatu alat pemikiran yang disebut dengan qiyas, analogi.

    Para ahli tafsir Al-Qur’an, dalam menghubungkan Iblis dan qiyas ini, telah merenungkan perhatian Islam yang lebih luas. Bukti dari periode formatif ke masa sekarang, dengan menentukan kekuatan pikiran manusia. Dapatkah menusia mencapai kebenaran melalui kekuatannya? Atau apakah semua kebenaran melalui kekuatannya atau apakah semua kebenaran mengandung wahyu?

    Beberapa orang, seperti kelompok Mu’tazillah menganjurkan untuk memberikan pengendalian terhadap kekuatan pikiran manusia, nazar, dan terhadap qiyas. Beberapa orang yang lain, seperti kelompok Zahiris, menolak kemanjuran pikiran manusia yang benar-benar bebas, yang menyatakan bahwa analogi tidaklah berarti dalam mempertanyakan kebenaran religius.

    Posisi yang lebih moderat diberikan oleh seorang ahli hukum Asy-Syafii (wafat 820M) yang berhasil menentukan qiyas sebagai sebuah alat untuk mengembangkan teori hukum Islam. Jelasnya, Syafi’i tidak menempatkan pikiran analogis sejajar dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Meski begitu, dia mengakui sebagai suatu cara yang penting dalam kasus-kasus tertentu untuk sampai pada jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah religius yang sulit.

    Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh para ilmuwan ahli hukum seperti Asy-Syafi’i telah menjadi sebuah sumber metodologi yang kaya bagi para filsuf-teolog Islam. Oleh karena itu, pengaruh dari prinsip-prinsip yang dipercaya ini tidak dibatasi pada salah satu disiplin agama.

    Kaitan Iblis dengan qiyas merupakan suatu tanda, bahwa pikiran analogis, atau metode lain apa pun yang menggunakan pikiran manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kebenaran agama, penuh dengan bahaya.

    Memang benar, ada saatnya ketika pikiran itu harus digunakan. Namun seseorang harus berhati-hati agar dia tidak terlalu jauh melangkah melewati batas-batasnya. Kasus Iblis tetap merupakan contoh utama bagi ahli tafsir Muslim tentang keterbatasan dan ketidakjujuran akal manusia.

    Setelah merenungi dengan cermat dirinya dan Adam, Iblis mengambil kesimpulan dengan analog, bahwa dia seharusnya merupakan makhluk superior karena api kelihatannya lebih superior daripada tanah liat. Dia menyimpulkan, bahwa dia secara sah tidak dapat diwajibkan untuk bersujud di depan makhluk inferior ini, sekali pun perintah Allah begitu.

    Melalui proses pemikiran ini Iblis menjadi makhluk pertama dan kesimpulannya yang kelihatannya logis telah memperkeras hatinya terhadap perintah Allah dan memikatnya ke dalam kerusakan dirinya sendiri.

    Hanya dengan melihat asal mulanya yang lebih baik secara fisik, Iblis telah salah mengartikan yang sebagian untuk keseluruhan. Keunggulan sifat eksternal yang terhadapnya dia dan Adam akan dibandingkan.

    Iblis mengabaikan roh yang Allah telah tiupkan ke dalam tubuh Adam, dan ke dalam pengetahuan Adam, dua sifatnya yang unik. Bukankah Adam yang telah mengajarkan para malaikat nama-nama seluruh benda yang telah diciptakan? (jss/bersambung)