Beranda Budaya Tragedi Setan (37) : Mengapa Junayd Marah dan Iblis Kabur?

    Tragedi Setan (37) : Mengapa Junayd Marah dan Iblis Kabur?

    127
    0

    Suatu hari, seorang sahabat sedang mendekati Al-Junayd, ketika dia melihat Iblis yang melarikan diri dari dalam diri Al-Junayd. Ketika sahabat itu datang, ia melihat Al-Junayd sedang marah. Ia tampak sangat berang, dan sedang mencaci-maki seseorang.

    Sahabat ini pun mendekat dan berkata.”Wahai syekh, aku mendengar Iblis lebih mampu menyesatkan anak cucu Adam pada saat mereka berada dalam kemarahan. Tapi engkau sekarang sedang marah, namun aku melihat Iblis justru melarikan diri darimu!”

    Al-Junayd berkata,”Tidak pernahkah engkau mendengar, dan apakah engkau tidak menyadari, bahwa aku tidak marah karena kemauanku sendiri? Tetapi aku menjadi marah karena kebenaran. Tentu saja Iblis lari dariku, karena aku bukan sedang marah biasa. Kemarahan orang lain adalah hasil dari kesenangan jiwa rendahnya.”

    Mereka berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk? Aku sudah tidak pernah membutuhkan doa ini lagi.”

    Transformasi batin juga merupakan fokus sentral dalam perjuangan manusia terhadap nafs dan dunia. Seperti halnya bau bangkai dunia yang membusuk sangat menarik bagi anjing-nafs, maka demikian pula penghilangan semua makanannya, yaitu hasrat atau hawa nafsu, adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan anjing-nafs itu.

    Dengan tidak adanya makanan, dia dapat digertak dan digentarkan oleh jenis dzikr apa pun. Tetapi jika hati tidak terbebas dari makanan setan, anjing-nafs tadi akan kembali lagi. Ingat nasehat Al-Ghazali, yang menyebut seorang pencuri hanya memasuki rumah-rumah di mana ada barang yang bisa dicuri. Hati yang kosong dari hawa nafsu adalah kosong dari setan.

    Sikap terhadap dunia yang harus dikembangkan adalah sikap pengasingan diri. Suatu penjauhan diri -secara bathin- dari hawa nafsu, yaitu hasrat, keinginan dan ketagihan terhadap dunia, dan juga pelepasan diri -yang bersifat eksternal, secara fisik- dari orang-orang dan tempat-tempat yang dapat membawa seseorang kepada kesesatan.

    Di antara hamba Allah terdapat empat lautan. Jika si hamba tidak dapat melintasi lautan-lautan itu, maka dia tak akan mencapai Allah. Salah satu lautan itu adalah dunia, dan kapal untuk melintasinya adalah jalan spiritual. Lautan yang lain adalah manusia, dan kapal untuk melintasinya adalah menjauhkan diri dari mereka. Lautan yang ketiga adalah Iblis, dan kapal untuk melintasinya adalah kebencian terhadapnya. Dan lautan yang terakhir adalah hawa nafsu, dan kapal untuk melintasinya adalah penahanan diri terhadapnya.

    Suatu jiwa yang disempurnakan melalui pengasingan diri dan jalan spiritual tidak akan terikat dan tidak juga tunduk kepada jebakan-jebakan eksternal kekuatan duniawi. Pada kenyataannya peranan-peranan yang ada adalah sebaliknya, dan pendeta yang mengembara menjadi lebih kuat bahkan dari kekaisaran dunia.

    Al-Ghazali bercerita tentang seorang raja yang bertanya kepada seorang peminta-minta, yang akan diberikan apa pun kebutuhannya. Si pertapa menjawab,”Bagaimana saya dapat meminta sesuatu darimu apabila kekuasaanku lebih besar dari engkau?”

    Sang raja bertanya bagaimana mungkin itu bisa terjadi. “Dia yang kepadanya engkau menghambakan diri ala budak bagiku,” jawab si pendeta. Engkau adalah budak bagi hawa nafsumu, kemarahanmu, seksmu dan perutmu. Aku telah menaklukkan semua itu, dan mereka semua adalah budak-budakku.”

    Bahkan apa yang kelihatannya kecil dan tidak berarti juga harus menjadi sebuah obyek pengasingan diri. Ibrahim Ibnu Adham suatu hari sedang berjalan di padang pasir, dengan bergantung kepada Allah untuk memberi kebutuhannya.

    Tetapi selama tiga hari dia tidak menemukan makanan sama sekali. Iblis tidak akan meninggalkan dia dengan kedamaian. Iblis menggoda dia dengan ingatan-ingatan akan kerajaan sebelumnya dan mendesak dia untuk menyediakan makanan dan tempat tinggal untuk dirinya sendiri.

    Ibrahim memohon bantuan kepada Allah, dan sebuah suara berbisik kepadanya untuk membuang apa yang ia bawa dalam kantung bajunya. Dengan tercengang, Ibrahim mencari-cari dan menemukan sebongkah kecil perak yang dia tidak ingat ada di kantungnya itu. Segera Ibrahim membuang perak itu. Iblis terkejut dan segera menjauh, dan kemudian makanan terlihat dari dunia yang tidak kelihatan.

    Yang terakhir, seseorang harus bisa mengasingkan diri, bahkan dari aspek-aspek kehidupan yang sebenarnya tidak tercela. Ini terutama terjadi dalam perbuatan-perbuatan baik seseorang yang dapat menjadi obyek kesombongan dan kebanggaan yang agak berlebihan. (jss/bersambung)