Beranda Berita utama Vietnam Rose (17) : Dipaksa Layani Tiga Tentara

    Vietnam Rose (17) : Dipaksa Layani Tiga Tentara

    944
    0
    easytours.com

    Pertengahan Januari tahun 1973. Udara pantai malam itu sangat dingin. Tubuh Tun Muang yang agak kurus itu menggigil. Dalam situasi menderita itu, ia teringat suaminya. Ayah dan ibunya. Juga janin anaknya yang hilang gara-gara diperkosa tentara Amerika.

    Mengingat semua itu, wanita ini tak bisa memejamkan mata. Pikirannya menerawang jauh. Tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan. Terkadang, kalau agak salah dalam mengubah posisi tidurnya, maka luka di kemaluannya terasa nyeri. Ia meringis menahan itu.

    Ketika Tun Muang sedang melamunkan masalalunya itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Ia hapal suara itu. Itu adalah suara sepatu laras tentara. Dan benar. Sekitar duapuluhan pasukan berpakaian kaus Army masuk ke barak. Tawa mereka berderai, memecah kesunyian barak tempat tinggal para wanita Vietnam itu. Nampaknya mereka baru pulang dari medan perang.

    Tun Muang yang tidur di ranjang ketiga dari pintu masuk barak pura-pura tidur. Seorang tentara menghampirinya. Dengan kasar tentara itu membuka baju atasnya. Menyorongkan tangannya, dan meremas-remas payudaranya. Tun Muang tak bereaksi. Ia tetap memejamkan mata.

    Tentara besar tinggi itu mengulum payudaranya. Tangan serta mulut tentara itu menyusur ke perut Tun Muang. Tentara itu membuka paha Tun Muang. Dan dalam keremangan cahaya lampu petromaks itu Tun Muang melihat pria besar tinggi itu sedang berusaha mencumbunya.

    Saat laki-laki itu membuka kedua pahanya, dan tangan serta mulut tentara itu mempermainkan kemaluannya, Tun Muang tetap diam. Ia berusaha tak mengaduh ketika luka di kemaluannya digesek-gesek dan terasa perih.

    Ia tak berani mencegah. Juga tak kuasa untuk berontak. Sebab pengalaman membuktikan, melakukan itu sama dengan bunuhdiri. Nyawa taruhannya. Untuk itu Tun Muang hanya berharap tentara itu tak menyukainya. Dan beralih ke wanita lain yang ada dalam barak ini.

    Namun harapan tinggal harapan. Tentara itu sangat terangsang. Setelah puas mengobok-obok kemaluan dan payudara Tun Muang, ia menarik tubuh wanita ini ke pinggir ranjang. Ia mengangkat dua kaki Tun Muang. Dan dengan berdiri ia menyetubuhi wanita ini.

    Tun Muang diam saja. Ia tak mengaduh atau merintih. Namun demikian, tentara lain telah menunggu di dekatnya. Teman satunya belum selesai menodainya, dua tentara lain justru sudah melakukan pemanasan. Alhasil, malam itu Tun Muang melayani nafsu seks tiga tentara. (jss/bersambung)