Ssttt, Omong Angling Darma Itu Larangan di Kedu

    Ssttt, Omong Angling Darma Itu Larangan di Kedu

    3300
    0

    Masyarakat di wilayah Kedu, Kabupaten Temanggung, Jateng mungkin tidak asing dengan legenda Angling Darma. Bahkan cerita rakyat yang pernah disinetronkan itu pernah menjadi persoalan serius.

    Itu karena mitos ini masih berlaku di wilayah Kedu. Pantangan untuk bercerita, bertutur, apalagi mementaskan sesuatu yang berhubungan dengan Angling Darma. Barang siapa yang melanggarnya dipercaya akan tertimpa petaka, bahkan terancam kematian.

    Mitos Angling Darma memang masih disakralkan. Terbukti, banyak peristiwa gaib yang selalu membawa petaka dan bencana bagi warga yang mencoba menuturkan kisah Raja Malawapati itu.

    Dalam legenda yang banyak dituturkan secara lisan itu menyebut, Angling Darma adalah sosok Raja Malawapati. Situs-situsnya dipercaya berada di gugusan bukit (Gunung Bandang) wilayah Kelurahan Bojonegoro, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

    Dalam versi cerita lisan yang lain, Angling Darma ternyata juga dikenal sebagai putra seorang raja di daerah Bojonegoro, Jawa Timur. Ia digambarkan sebagai pria yang memiliki paras tampan. Selain itu ia juga memiliki guru sakti, yang berwujud ular, tempatnya di Gunung Srandil.

    Di antara kesaktian yang diperoleh itu adalah ajian gineng (mengerti bahasa binatang). Ilmu itu tidak boleh ditunjukkan siapa saja, termasuk orang tuanya sendiri.

    Saat malam pertama perkawinannya, ada sepasang cecak yang berbicara. Apa yang dibicarakan makhluk merayap itu bisa didengarnya. Kontan, Angling Darma tersenyum sendirian. Melihat itu, permaisurinya curiga dan serba salah. Ia mencoba mencari jawab dengab bertanya pada Angling Darma. Apakah wajahnya jelek dan tidak cocok menjadi permaisuri?

    Ditanya begitu Angling Darma mengatakan tidak. Tapi karena penasaran, permaisurinya terus mendesak mencari tahu. Agar tak menimbulkan sikap salah, akhirnya Angling Darma pun mengaku, ia punyai ilmu yang bisa mendengarkan pembicaraan binatang seperti cecak. Karenanya, begitu binatang itu berbicara, ia pun tertawa.

    Mendengar jawaban itu, sang permaisuri (Dewi Setyawati) minta agar ia diberi ilmu itu. Tapi Angling Darma tidak bisa menuruti. Sebab, memang tidak boleh dibocorkan pada orang lain, termasuk permaisurinya sendiri. Karena tidak juga diberi ilmu itu, akhirnya permaisurinya ini membakar diri (ngobong).

    Setelah permaisurinya meninggal dengan cara yang mengenaskan itu, Angling Darma akhirnya melanglang buana. Menjelma menjadi burung mliwis putih yang menjadi klangenan putri Raja Bojonegoro.

    Angling Darma juga dikenal sebagai pemberantas kemunkaran yang ada di muka bumi. Pengembaraan sang tampan juga diikuti patihnya yang bernama Batik Madrim. Namun dalam beberapa versi tutur disebutkan, patih ini mengadakan pembangkangan pada Angling Darma.

    Legenda Angling Darma memang lebih diakui di wilayah Kedu, Temanggung, Jateng. Ini menyangkut keberadaan situs di Kelurahan Bojonegoro berupa balai kelurahan yang dipercaya sebagai kedaton (istana), serta sendang yang dipercaya sebagai tempat munculnya mliwis putih dan sebuah makam (petilasan) di Bukit Bandang.

    Menurut Nyitno (45), juru kunci pesarean Angling Darma, tiga tempat ini menjadi alasan mitos itu menjadi sangat diyakini. Pantangan besar bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Kedu untuk menuturkan kisah Angling Darma.

    Beberapa peristiwa negatif selalu muncul bersamaan dengan penyebutan secara lisan. Dari bencana kecil sampai pada kematian sang penuturnya. Sugesti mistik itu sampai sekarang masih mbalung sungsum (mendarah daging) di masyarakat Kedu, khususnya di Kelurahan Bojonegoro. jss