Beranda Berita utama Dorab Mistry : Harga CPO masih perkasa

    Dorab Mistry : Harga CPO masih perkasa

    9
    0

    JAKARTA-Dorab Mistry, analis minyak nabati memperkirakan harga CPO akan menjadi komoditas dengan harga paling menukik (bullish) di antara komoditas nabati lain

    Dorab Mistry yang juga Direktur Godrej International Ltd memperkirakan harga CPO di bursa berjangka akan mencapai 3.100 ringgit per ton pada 2018.

    Mistry mendasarkan asumsi minyak mentah Brent akan diperdagangkan pada harga US$45-US$65 per barel, setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga dan dolar AS diprediksi menguat terhadap mata uang Brasil,Argentina, dan India.

    Sementara itu, Kepala Perkebunan di United Plantations Bhd. Datuk Cari Bek-Nielsen memproyeksikan CPO bergerak di level 2.400-2.800 ringgit per ton. Sementara itu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Komoditas Datuk Seri Mah Siew Keong memproyeksikan CPO akan diperdagangkan di level 2.600-2.700 per ton pada tahun ini.

    Pada penutupan perdagangan Jumat (5/1), tercatat harga CPO kontrak pengiriman Maret 2018 di Bursa Malaysia naik tipis 5 poin menjadi 2.590 ringgit atau setara dengan US$648,02 per ton.

    Pada perdagangan sebelumnya, minyak sawit mengalami koreksi 0,8% menjadi 2.585 ringgit (US$645,44) per ton. Angka itu merupakan penurunan pertama dalam tiga hari dan penurunan harian tertajam dalam dua minggu.

    Kendati melemah, sepanjang sepekan pertama di 2018 ini, minyak sawit tumbuh 3,3% secara year to date (ytd).

    “Pasar mengalami beberapa aksi profit talang, sehingga mengalami koreksi,” kata pedagang yang berbasis di Kuala Lumpur yang tidak ingin disebutkan namanya, seperti dilansir Reuters, Minggu (7/1).

    Adapun, Kenanga Research mengatakan bahwa CPO memiliki katalis positif dari cuaca basah La Nina di awal tahun dan dukungan potensial dari harga minyak mentah yang lebih baik. Selain itu, permintaan dari China sebagai importir terbesar di dunia juga akan menguat.

    “Dalam jangka pendek, kami mengek-spektasikan permintaan akan kuat dari China menjelang Tahun Baru Imlek pada akhir Februari,” ungkap laporan Kenanga Research.

    Menurutnya, meskipun negara lain cenderung menghadapi permintaan yang lemah selama musim dingin, namun diperkirakan justru akan mendukung harga minyak kelapa sawit, terutama pada Januari ini.(sand)