Jalan-Jalan Asyik di Ambon, Kota yang Tiga Tahun Tercabik Konflik (2)

Jalan-Jalan Asyik di Ambon, Kota yang Tiga Tahun Tercabik Konflik (2)

38
0
Keindahan kota Ambon dilihat dari udara (foto: AW)

Sepanjang tahun 1999-2001, Kota Ambon bak neraka. Kota ini menjadi medan perang antar kelompok masyarakat. Kegiatan ekonomi mati, pendidikan terhenti, dan ujungnya semua hanya bisa gigit jari. Kini, warga Ambon kompak dan tak mau mengulang kesalahan itu lagi:

Bandara Pattimura siang itu (8/2) mendung, namun udara tetap berasa panas. Maklum, Kota Ambon terletak tepat di tepi pantai di Kepulauan Maluku. Namun, sambutan yang ramah dari petugas di bandara, mulai mengubah persepsi kami tentang kota ini.

”Selamat datang di Ambon Manise,” kata seorang wanita menyapa ramah begitu kami keluar pintu bandara. Entah setiap hari atau karena sedang menyambut tamu HPN (Hari Pers Nasional), ada pagelaran musik dan tarian di areal kedatangan bandara. Kami bergegas menuju mobil, karena penerbangan 3,5 jam dalam cuaca mendung, menekan selera makan selama di udara.

”Kita cari makan dulu ya, apa saja yang khas Ambon,” kata saya kepada Jeffry, driver kami selama empat hari di sini.

Keluar dari areal bandara, kami mulai terkesima. Tidak ada jejak atau tanda-tanda bahwa kota ini selama tiga tahun pernah terbelah oleh konflik politik yang berkedok konflik agama. Sepanjang perjalanan dari bandara, jalanan dua arah dengan taman sebagai median jalan, tampak rapi.

”Setelah konflik reda tahun 2001, kami mulai menata kehidupan di sini. Masyarakat sudah rukun sekarang. Capek konflik terus, ekonomi mati,” kata Jeffry.

Mobil pun membawa kami menyusuri jalanan dari bandara menuju arah pusat kota. Sepanjang jalan cukup ramai, juga banyak polisi dan anggota TNI yang berjaga di sepanjang jalan. Eit, tapi itu bukan karena mengantisipasi kerusuhan atau konflik lho. Juga bukan karena diberlakukan daerah operasi militer atau jam malam. Banyak polisi dan anggota TNI tersebut untuk memastikan keamanan menyambut kedatangan Presiden Jokowi, yang tiba sesaat setelah pesawat kami GA 646 mendarat, Rabu (8/2).

Kegiatan pertama setiba di Ambon adalah kuliner. Kami dibawa oleh driver ke rumah makan Imperial. Selain menu ikan, ayam goreng, dan sayuran, ada satu menu khas Ambon: papeda. Papeda adalah makanan yang terbuat dari sagu dan disajikan dengan ikan bumbu kari.

“Dulu, papeda seperti halnya nasi bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Makan papeda dengan lauk. Tetapi seiring berjalannya waktu, selain papeda, masih juga makan dengan nasi,” jelas seorang pelayan rumah makan tersebut.

Zaman dulu, kata dia, tak banyak warga Ambon yang mampu membeli beras untuk dimasak menjadi nasi. Karena itu pilihannya mengolah sagu menjadi bubur (papeda). Rasanya tentu saja nikmat dan lezat. Yang unik adalah cara makannya: papeda dipilin dengan alat seperti sumpit kayu, kemudian dipindahkan ke piring yang diberi kuah kuning. Lantas, kuah tadi diseruput dan rasakan kenikmatannya. (tofan.mahdi@gmail.com/ bersambung)