Kaya dan Sejahtera dengan Bertani Kelapa Sawit

Kaya dan Sejahtera dengan Bertani Kelapa Sawit

3381
0

sukses-sawit

Menjadi petani kelapa sawit terbukti meningkatkan kesejahteraan masyarakat di banyak wilayah pinggiran di Indonesia. Tengok saja betapa sumringah dan bahagia wajah-wajah petani sawit di Sumatra, Kalimantan, pun Sulawesi. Lantas, masihkah kita percaya, jika kemudian ada yang mengatakan bahwa perkebunan kelapa sawit justru membuat sengsara?

Ingin hidup di desa dengan kaya dan sejahtera? Jadilah petani kelapa sawit. Baik sebagai petani mandiri, maupun menjadi mitra perusahaan perkebunan melalui program plasma. Tengok saja pernyataan yang dilontarkan Habrin, keluarga petani kelapa sawit di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Meski tidak terlalu luas, menurutnya, kebun sawit yang dikelola keluarga saat ini mampu menjadi “asuransi” dalam hidupnya dan bisa digunakan untuk membiayai hidup dengan layak. “Itu sebabnya, saya bisa bekerja sebagai guru dengan idealis,” ujarnya.

Yang dimaksud dengan “idealis”, menurut Kepala SMA Sungsan, Banyuasin 2, Sumatera Selatan ini adalah: ia benar-benar bisa menjadi pendidik yang tidak semata-mata bekerja karena mengejar gaji. Sebab, masalah uang sudah terpenuhi dan terjamin dari kebun sawit.

Demikian juga yang dialami H. Made Amin, petani sawit di Desa Bulumario, Kecamatan Sarudu, Sulawesi Barat, ia kini hidup makmur berkat tanaman kelapa sawitnya. “Alhamdulillah, anak saya semua sekolah. Semua dari sawit,” katanya. Tak hanya itu, dari kebun sawit setiap bulan ia dapat memperoleh penghasilan bersih hingga Rp 40 juta.

Made bahkan membeli dua truk yang disewakan untuk mengangkut tandan buah segar (TBS) tetangga-tetangganya sesama petani sawit. Penghasilannya juga memungkinkan ia memiliki dua unit mobil untuk keperluan pribadi. “Sawit merawatnya tidak sulit dan jika sudah mulai berbuah, bisa terus berbuah hingga 30 tahun,” katanya.

Hidup kaya dan sejahtera dengan menjadi petani kelapa sawit juga dirasakan Supriyanto, transmigran asal Jawa Tengah yang kini memiliki sekitar 50 hektar kebun sawit di Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelelawan, Provinsi Riau. Supri adalah petani plasma yang bekerja sama dengan salah perusahaan perkebunan swasta di daerah tersebut.

“Kalau ingat tahun 1990 saat awal saya masuk ke sini, rasanya tidak percaya kalau sekarang saya memiliki penghasilan puluhan juta rupiah per bulan,” kata Supri.

Rumah megah yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 900 juta pada tahun 2005, beberapa unit mobil mewah seperti Toyota Fortuner, serta anak-anak Supri yang mengenyam pendidikan tinggi di Jawa, adalah simbol kesejahteraan itu. Di Kecamatan Pangkalan Lesung sendiri, Supriyanto tidak sendiri. Ada puluhan petani kelapa sawit lain yang juga sejahtera. Mereka menikmati ini semua, tentu saja, berkat kerja keras, kesungguhan, serta kejujuran sehingga bisa terus dipercaya sebagai mitra perusahaan perkebunan kelapa sawit.