Ini Pesan Mistis Prabu Siliwangi di Situs Kawali

    Ini Pesan Mistis Prabu Siliwangi di Situs Kawali

    6801
    0

    Situs Kawali merupakan temuan arkeolog paling historis. Di dalamnya ada makam kuno, beberapa prasasti dan menhir. Situs ini terdapat dalam sebuah kawasan berpagar bambu dan ditumbuhi pohon-pohon tua yang rimbun.

    Situs yang terletak di Kampung Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jabar ini pun menyimpan makna-makna mistis. Terutama tentang kondisi negeri dewasa ini. Apa bunyi pesan yang ditorehkan Prabu Siliwangi di atas batu itu ?

    Situs Kawali kerap pula disebut situs Astana Gede. Letaknya sekitar 1 Km di sebelah barat daya kota Kecamatan Kawali. Secara keseluruhan, kompleks situs Kawali berada pada areal seluas 5 Ha. Tepatnya berada di kawasan hutan lindung yang dijadikan obyek wisata budaya.

    Sekitar 300 meter di sebelah baratnya, terdapat sebuah mata air yang oleh penduduk setempat disebut dengan mata air Cikawali. Secara geografis, situs Kawali berada di kaki Gunung Sawal.

    Di sebelah timur terdapat beberapa teras yang berundak. Teras pertama merupakan teras yang dikelilingi pagar bambu. Pada teras ini terdapat dua punden yang dihubungkan dengan tatanan batu dan makam dari zaman penyebaran Islam di Tanah Sunda.

    Suasana yang sepi, bagi pengunjung memberi kesan wingit dan keramat. Hal itu diakui beberapa pengunjung yang secara khusus datang dari jauh. Mereka tak sekadar berkunjung.

    Ada kalanya ingin ngalap berkah di depan makam tokoh penyebar Islam. Dan tak jarang pula yang bertapa beberapa saat di sekitar kompleks itu.

    Memang, penduduk sekitar situs Astana Gede pun mengakui itu. Di lokasi keramat ini tak seorang pun berani bertindak sembrono. Mereka sangat menghormati sebagai tinggalan karuhun (leluhur) mereka di masa silam.

    Makam yang ada di kompleks Astana Gede adalah Kiai Adipati Singacala, yang panjangnya 294 Cm. Beliau adalah tokoh penyebar agama Islam di Kawali.

    Tak jauh dari situ terdapat makam Baya Magarsari, istri Pangeran Adipati Singacala. Lalu makam Pangeran Usman yang disebut-sebut sebagai utusan Sultan Cirebon untuk menyebarkan agama Islam di daerah Kawali yang kemudian mendapat dukungan dari Adipati Singacala.

    Selain makam, ditemukan juga yoni dengan bentuk lubang segitiga. Di sebelah yoni nampak sebuah menhir yang tingginya 120 cm. Di dalam kompleks terdapat beberapa rumah kecil (cungkup) sebanyak empat buah. Isinya berupa batu bertulis (prasasti) yang berisi pesan-pesan mistis Raja Rahyang Niskala Wastu Kancana, yang oleh rakyat di Tatar Sunda dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.

    Tiap cungkup berisi prasasti. Pesan dalam prasasti itu berbahasakan Sunda Kuno, tanpa tahun. Tapi berdasarkan nama-nama yang disebut di dalanya, diperkirakan berasal dari abad ke-14 Masehi. Nama-nama itu, menurut Carita Parahyangan, adalah mereka yang pernah menjadi raja. Yakni Rahyang Niskala Wastu Kancana dan Rahyang Dewa Niskala.

    Dua buah batu yang lain di pemakaman itu menyebut nama Lingga Hyang dan Lingga Bingha. Kecuali temuan itu, di bebarapa sudut ditemukan batu Menhir dengan bermacam variasi ketingian, dari 50 – 80 Cm.

    Seperti diungkap Akup Wiria (60), kuncen situs Astana Gede, Rahyang Wastu Kancana atau Prabu Siliwangi, menorehkan pesan-pesan mistis itu dengan jari tangannya. Sang Prabu waktu itu ingin pesan-pesannya abadi, hingga bisa didengar oleh anak cucunya di kemudian hari. “Makanya ia membuatnya di atas batu alam yang sangat keras,” ujar Akup Wiria.

    Prasasti I berbunyi, “Inilah tanda bekas beliau yang mulia Prabu Raja Wastu yang berkuasa di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit di sekeliling ibukota, yang memakmurkan seluruh desa. Semoga ada penerus yang melaksanakan berbuat kebajikan agar lama jaya di dunia.

    “Pada prasasti ini ada pesan lain bertuliskan, “Janganlah dirintangi, janganlah diganggu, yang memotong akan ager (hancur), yang menginjak akan roboh. ”Lalu pada Prasasti II, pesan sang prabu ditorehkan pada batu alam berbentuk akolade (kwadrat) yang tidak simetris dengan ukuran tinggi 125 Cm dan lebar 80 Cm.

    Bunyinya, “Semoga ada yang menghuni di Kawali ini yang melaksanakan kemakmuran dan keadilan agar unggul dalam perang. “Sedangkan pada Prasasti VI, prabu berpesan, “Ini peninggalan dari rasa yang ada, yang menghuni kota ini, jangan berjudi bisa sengsara.” eko/jss