Pulung Kematian (5) : Derajat Cendana dan Ritus Bunuh Diri

    Pulung Kematian (5) : Derajat Cendana dan Ritus Bunuh Diri

    17
    0

    Pulung gantung dipercaya sebagai bala maut. Ini beda dengan mitos pulung pada umumnya.

    Masyarakat Jawa sangat mengenal pulung. Itu sebagai sasmita gaib. Itu adalah tengara, wahyu yang berhubungan dengan derajat, pangkat, jabatan, harta dan kekuasaan seseorang.

    Pulung seperti ini muncul sebagai tanda bahwa seseorang akan mendapat keberuntungan. Beberapa peristiwa sosial dan politik seperti pemilihan kepala desa sampai pemilihan presiden juga dikaitkan dengan kekuatan cahaya mistis ini.

    Tidak hanya itu saja. Kejatuhan seseorang pun akan dilihat karena telah ditinggalkan pulung nasibnya. Gus Dur naik tahta, dalam teropong spiritual didudukkan sebagai penerima pulung (wahyu) keprabon menggantikan Soeharto yang lengser.

    Pendulum pun mengisyaratkan, bahwa kekuatan Soeharto bergantung pada Ibu Tien. Saat Ibu Tien meninggal, maka kekuasaan Dinasti Cendana pun tinggal menunggu waktu untuk runtuh.

    Itu karena diyakini, wahyu keraton terkubur di Astana Giri Bangun. Dan kekuatan Soeharto runtuh bersama pulung yang hilang. Tapi mengapa pulung yang satu ini (pulung gantung) membawa isyarat kematian?

    Tanda cahaya mistis itu bahkan dianggap sebagai kutukan di salah satu wewengkon Kraton Yogyakarta. Atau ini bagian dari kekuatan mistis kraton yang butuh tumbal?

    Sebab jika dijabarkan, kekuasaan Nyi Ratu Kidul juga punya pengaruh hitam. Ataukah ini akibat ada tokoh-tokoh aliran hitam yang hendak merusak ketentraman wilayah ini?

    Beberapa budayawan dan tokoh spiritual di Gunung Kidul yang sempat dihubungi masih menyangsikannya. Mereka hanya menganggap pulung itu sebagai ilmu titen (berdasar kebiasaan).

    Hanya ilmu gathuk, yakni ketika leluhur (nenek moyang) kita melihat cahaya itu muncul, maka akan disusul dengan kematian.

    Penganut aliran Kejawen pun menolak fenomena kematian gantung diri ini sebagai buah ajaran Jawa yang fanatis. Ajaran yang dikaitkan dengan paham Jawa, bahwa manungsa kudu nerima ing pandum, manungsa mung saderma nglakoni.

    Konsep ini memang bisa disalah-tafsirkan sebagai kepasrahan absolut pada Yang Maha Kuasa (Tuhan).

    Dalam tafsiran awam, konsep nerima ing pandum, ditelan secara wantah sehingga dalam keputus-asaan, tiada jalan lain selain harus mengakhiri hidup.

    Paham yang lebih dekat dengan pemahaman ini memang pernah diajarkan Sidharta Gautama, bahwa manusia hidup di dunia ini adalah dalam penderitaan.

    Dan konsep spiritual yang disalah-artikan ini juga pernah dilakukan beberapa sekte terlarang di Barat.

    Seperti Sekte Ranting Daud, yang melakukan ritual bunuh diri massal, hanya untuk membebaskan diri dari penderitaan dunia. Ini juga pulung! Pulung yang bersosialisasi cara pembebasan diri dari segala derita hidup.

    Ya, ini sebuah pulung sasar! Berkonotasi negatif. Sama dengan tragedi pulung gantung. Hanya wujud dan pemahamannya saja yang berbeda. (bersambung/jss)