Pulung Kematian (7-Habis) : Pengejawantahan Falsafah Tinimbang Wirang

    Pulung Kematian (7-Habis) : Pengejawantahan Falsafah Tinimbang Wirang

    19
    0

    Kepercayaan aneh masyarakat Gunung Kidul ini tak jelas kapan mulainya. Namun banyak yang menghubungkan mitos pulung gantung ini dengan leluhur wilayah ini. Mitos itu setua manusia yang tinggal di Gunung Kidul.

    Kepercayaan negatif ini acap dihubungkan dengan falsafah hidup orang Gunung Kidul tinimbang wirang aluwung mati (daripada menanggung malu lebih baik mati).

    Falsafah ini bisa dilacak dalam sejarah masyarakat Gunung Kidul sendiri. Didirikan pada hari Jumat Legi, 27 Mei 1831, sejak pemerintahan Panembahan Senopati, raja Mataram pertama.

    Kawasan ini banyak dikenal sebagai kadipaten dengan ibukota Sumingkar dan Sumingkir. Artinya, daerah tempat orang untuk menyingkir (melarikan diri).

    Sejak runtuhnya Majapahit sampai geger pacinan dan hancurnya Kadipaten Madiun, Wonosari itu menurut Babad Tanah Jawi bernama Sumingkir karena dijadikan tempat pelarian para prajurit.

    Mereka yang setia pada raja memilih lari atau mati daripada harus menyerah pada musuh.

    Nah, konsep ksatria ini yang akhirnya membekas pada anak cucu orang Gunung Kidul dalam menghadapi masalah yang berat.

    Namun keyakinan sejarah ini jadi fatal, karena diterjemahkan secara keliru. Sedikit saja mereka terkena masalah dan tertekan rasa wiring, maka akan melakukan jalan pintas. Bunuh diri. (habis/jss)