Tragedi Setan (49) : Hindari Kesombongan Iblis

    Tragedi Setan (49) : Hindari Kesombongan Iblis

    26
    0

    Kebutaan Iblis dalam memandang Adam jauh lebih buruk. Itu tak sekadar cacat indera. Tapi ini merupakan kesakitan yang terjadi sampai ajal. Karenanya, pertapa dengan seribu tahun pertapaan (Iblis), yang utama dari orang-orang yang beriman, akhirnya menemukan dirinya terkubang dalam timbunan hewan seperti sampah.

    Ejekan-ejekan Iblis dan para pengikutnya yang mengatakan “Engkau diciptakan dari tanah liat,” akhirnya memudar. Ejekan itu kehilangan gaung, dan terabaikan. Sementara itu para malaikat penghuni terus bersujud tiada henti dihadapan Adam, orang yang dipilih Allah.

    Al-Muhasibi secara sinis menggambarkan keadaan Iblis yang baru tadi sebagai keadaan baqa’, abadi, yang biasanya berhubungan dengan keabadiaan kondisi mistik. Namun begitu, keadaan baqa’-nya itu berada dalam bala’, kesengsaraan dan penderitaan. Bukan dalam kedamaian mistik.

    Dalam asimilasinya ke dalam dongeng pengetahuan Kesufian tentang konfrontasi kosmik antara Iblis dan Adam, para ahli mistik terfokus pada salah satu bagian kejadian mistik yang penting, yaitu teriakan Iblis: “Ana khayrun minhu!” (Aku lebih baik daripada dia!”).

    Kalimat ini, terutama kata pertama “Aku” (ana), merupakan simbol klasik para Sufi untuk suatu kesombongan dalam bentuknya yang paling eksterm. Dosa kesombongan, sebagaimana dijelaskan dalam sejarah mistik Iblis, bagi para Sufi merupakan suatu keadaan yang secara keseluruhan bertolak-belakang dengan keadaan para pengikut Jalan Spiritual.

    Sebab mistisisme mencapai titik puncak dalam kegairahan penyatuan dengan Allah, sedang kesombongan menimbulkan kegairahan akal, dengan akibatnya penonjolan eksistensi diri dan harga diri yang bebas tak terkendali.

    Sumber dari keinginan akan penonjolan diri yang membabi-buta ini adalah nafs-Iblis : “Nama musuh engkau adalah Iblis, berawal dengan alif,” jelas An-Niffari.

    “Dan nama musuh engkau nafs berawal dengan nun. Alif dan nun bersama-sama membentuk huruf-huruf dari kata ana, ‘aku’.

    “Tak ada keburukan yang lebih buruk dalam jiwa siapa saja selain dari kesombongan akan kesempurnaan, wahai perempuan. Banyak darah yang harus mengalir dari hatimu dan matamu karena rasa takjub terhadap diri sendiri keluar dari dalam dirimu. Malapetaka Iblis adalah ucapannya :”Aku lebih baik!”

    Dan penyakit yang sama ini menimpa nafs setiap makhluk yang hidup. Yang jauh lebih membuka pikiran dari hubungan kata ‘aku’ dengan kesombongan adalah kenyataan, bahwa para Sufi melihat, yang tersembunyi di balik itu, adanya suatu kemungkinan pernyataan yang menuhankan diri sendiri. (jss/bersambung)