Tragedi Setan (50) : ‘Aku’ Hallaj Atau ‘Aku’ Fir’aun

    Tragedi Setan (50) : ‘Aku’ Hallaj Atau ‘Aku’ Fir’aun

    22
    0

    ‘Aku’ bukanlah kata yang bisa diucapkan oleh orang awam. Juga oleh mereka yang telah berpengalaman. Kata ini hanya dibolehkan bagi sedikit orang-orang yang terpilih untuk memasuki alam ‘Aku’ dan tidak mengalami kerusakan spiritual di dalam alam itu.

    Dia yang tanpa penderitaan spiritual adalah seorang perampok jalanan, karena dia yang tanpa penderitaan itu akan berkata, “Akulah Kebenaran Ilahiah!”

    Pengucapan ‘aku’ yang terlalu cepat adalah sebuah kutukan. Dan pengucapan ‘aku’ pada saat yang tepat itu sebuah rahmat.
    Dan contoh dari aku yang dimaksud adalah, ‘Aku’ dari Mansyur (Al-Hallaj) tentu saja sebuah anugerah. Sedang ‘Aku’ dari Fir’aun adalah sebuah kutukan.

    Bagi sebagian besar Sufi, pernyataan ‘aku’ merupakan desakan setan, yang berasal dari dan mengikuti jejak penonjolan diri Iblis. Hanya Allah yang mempunyai hak untuk mengatakan “Aku”, karena Dia satu-satunya yang dapat berdiri sendiri dengan sebenarnya.

    Akibatnya, para orang suci harus senantiasa menjaga diri, saling memperhatikan satu sama lain. Jangan sampai satu pun dari mereka tunduk kepada godaan selama mengalami kegairahan spiritual yang keliru.

    “Bagi siapa saja yang mengatakan ‘aku’, “demikian kata Al-Kharraz,”akan terhalang dari ma’rifat. Dan siapapun yang mengatakan kepada Tuhannya, ‘Engkau’ dengan suasana jiwa yang penuh ketergantungan kepada-Nya, maka hatinya akan dibukakan terhadap ma’rifat.”

    Kitab hadits menyatakan, bahwa Iblis sangat terkejut ketika melihat ibadahnya dalam ketaatan selama seribu tahun berubah menjadi debu yang tidak berarti apa-apa hanya karena sebuah kata. Sehingga dia keluyuran tanpa tujuan ke pasar-pasar, sambil berteriak.

    “Hati-hatilah! Jangan sampai engkau berlaku sombong. Dan jangan pernah berkata ‘Aku’! Perhatikan apa yang terjadi denganku karena kesombonganku. “Kesombongan akan esensi dan kemuliaan adalah karakteristik Allah. Siapa saja menentang Dia, dan menyatakan kesamaan dengan-Nya, akan menerima akibat-akibatnya.

    “Aku” Iblis menjadi sebuah pohon gantung yang padanya dia (Iblis) tergantung akan keabadian. Dan orang-orang yang meniru kata-kata Iblis akan menjadi buah dari pohon yang sama itu.

    Para penulis Sufi menjadikan nasib Iblis sebagai analog utama untuk orang-orang yang akan menempatkan kepercayaannya secara membabi-buta pada sesuatu yang eksternal (zahir).

    Semua itu merupakan pencapaian agama eksternal atau hiasan-hiasan duniawi. Tak ada sesuatu pun, atau seorang pun, yang dapat memastikan awal mula dari keberhasilan spiritual melainkan Allah sendiri.

    Oleh karena itu, kehidupan Iblis merupakan saksi terhadap kesia-siaan ibadah yang tanpa diikuti pertumbuhan batin (interior) dalam kesucian melalui ketergantungan pada kemuliaan Ilahiah.

    Kesombongan beribadah bukanlah satu-satunya sebab kebutaan. Dalam corak yang sama para penulis spiritual sering menyebutkan nasib Bal’am, putra Ba’ur, sebuah figur legendaris dengan kemampuan akal yang luar biasa hebatnya. Di mana dia mengalami kejatuhan di tangan Musa, sekali pun memiliki kekuatan akal yang hebat. (jss/bersambung)