Vietnam Rose (1) : Politik Di Balik Nafsu Birahi

Vietnam Rose (1) : Politik Di Balik Nafsu Birahi

10526
0

Di Vietnam, saat tentara Amerika melakukan invasi ke negeri ibi, berkembang penyakit kelamin yang dikenal dengan sebutan Vietnam Rose. Penyakit kelamin ini mengguncang dunia. Daya serangnya luar biasa, sedikit di bawah AIDS yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Banyak korban berjatuhan. Terutama di kalangan prajurit Amerika dan wanita-wanita yang dijadikan pemuas nafsu tentara Paman Sam itu.

Namun benarkah Vietnam Rose itu hanya penyakit kelamin biasa? Ternyata tidak. Di balik penyakit itu, terdapat politisasi. Sebuah gerakan perlawanan dari para wanita Vietnam, untuk ‘meracuni’ tentara Amerika yang mengencaninya. Bagaimana kisah politik dan nafsu syahwat yang pernah menggoncang dunia itu? Inilah laporaannya yang dituangkan secara bersambung.

Vietnam merupakan negara komunis yang terletak di Asia Tenggara. Negara ini termasuk negara paling getir hidupnya di bawah cengkeraman Amerika. Negara miskin (sekarang tidak lagi, red) yang banyak penduduknya itu dijadikan sapi perahan, terutama dalam segi ekonomi.

Yang paling parah, tentara Amerika membuat perempuan-perempuan muda Vietnam menjadi pemuas nafsu. Ribuan wanita dan ABG dikirim ke kamp-kamp pasukan Amerika. Dari kamp itulah banyak cerita sedih dan pilu bermula.

Kamp Khe Sanh yang terletak di sebelah selatan Vietnam merupakan saksi bisu kekejaman tentara Amerika yang haus birahi. Tien Min adalah salahsatunya. Gadis ayu yang berkulit putih mulus itu terpaksa harus melayani sepuluh tentara setiap hari.

Disana ia dan beberapa puluh orang temannya menempati sebuah barak yang tak layak untuk ditempati. Atapnya hanya terbuat dari rumbia dengan bambu sebagai penyanggah tiang. Alas tidur mereka hanya tikar yang terbuat dari rotan. Makan hanya dua kali seminggu dan minum susu kedelai setiap pagi.

Pulangnya tentara-tentara Amerika dari peperangan di hutan-hutan biasanya akan langsung ke Kamp Khe Sanh. Saat itulah hari yang tersibuk buat gadis-gadis Vietnam itu. Jika saat tentara itu berangkat mereka melayani lebih dari tujuh pria setiap malamnya, maka setelah tentara itu datang, gadis-gadis ini biasanya akan melayani lebih dari dua belas orang. Bagaimana mereka mempertahankan staminanya?

Disana ada kebiasan, sebelum bermain cinta, tentara itu akan memberikan minuman alkohol yang dicampur dengan obat penenang atau obat tidur. Itulah yang menyebabkan gadis-gadis itu tahan banting. Mereka tak mengingat apa-apa. Tahu-tahu, paginya mereka merasakan vaginanya terkoyak atau malah terus-terusan meneteskan darah.

Gadis-gadis itu bila mendapat tentara yang tahu etika, maka ia akan diobati. Tapi kalau kebetulan laki-laki yang memperkosanya tak punya rasa belas kasihan, maka gadis-gadis itu akan sekarat. Itulah yang terjadi pada gadis belia seperti Tien Min. (jss/bersambung)