WNI Ikut Serang Sawit, itu Penghianat Bangsa

    WNI Ikut Serang Sawit, itu Penghianat Bangsa

    7791
    0

    JAKARTA – Tokoh sawit nasional Maruli Gultom geram dan marah melihat makin masifnya kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit. Lebih geram lagi melihat kampanye itu tidak hanya dilakukan oleh orang asing, tetapi juga warga negara Indonesia sendiri.

    ”Ini namanya penghianat bangsa. Mereka ikut-ikutan mendukung kampanye LSM asing meyerang kelapa sawit Indonesia. Sungguh ironis, bangsa Indonesia sendiri menghancurkan satu-satunya industri kebanggaan nasional dan menjadi nomor satu di dunia,” kata Maruli seperti dia tulis di akun Facebook-nya.

    Maruli yang pernah menjadi CEO di salah satu perusahaan kelapa sawit papan atas di Indonesia ini menegaskan, kelapa sawit sudah menjadi hajat hidup orang banyak. Sekitar 6 juta orang bekerja di perkebunan kelapa sawit, menjadi petani sawit, dan melalukan usaha dalam mata rantai industri kelapa sawit. Dan, sekali lagi, hanya komoditas minyak sawit yang bisa membawa Indonesia menjadi nomor satu di dunia.

    ”Karena itu, setiap WNI wajib melindungi kelapa sawit dari kampanye negatif LSM asing,” kata Maruli.

    Mantan Rektor UKI Jakarta ini mengatakan, jika orang negara-negara Barat risau dengan kelapa sawit Indonesia dan Malaysia, itu wajar. Karena produk minyak nabati mereka seperti kedelai, bunga matahari, kanola, dan lainnya, sudah kalah dengan minyak sawit.

    ”Tetapi kalau ada orang Indonesia yang mau diprovokasi oleh bule ikut-ikutan kampanye antisawit, itu sama dengan menghianati bangsa sendiri,” katanya.

    Maruli menceritakan, dalam berbagai forum internasional, dia sering melancarkan protes keras karena hanya minyak sawit yang dituduh merusak lingkungan. Padahal, produk minyak nabati mereka, menghabiskan luasan hutan 20 kali lipat dari luas yang dibutuhkan untuk menanam kelapa sawit. Apalagi tanaman untuk minyak nabati dari Eropa adalah tanaman semak yang tidak menghasilkan O2.

    ”Tanaman mereka tidak menyerap CO2, malahan sebaliknya setiap 6 bulan membuang karbon karena tanahnya harus diolah lagi untuk ditanam ulang,” katanya.

    Maruli mengatakan, seharusnya produk minyak nabati dari Eropa dan Amerika juga diharuskan mengantongi sertifikat ramah lingkungan.(T21)